Antara Kata dan Rasa

I feel you

Kalimat itulah yang pertama kali aku ucapkan ketika rasanya jadi rasaku juga dan ceritanya mengalir dalam ceritaku juga. Sampai disana, itu baru awal dimana aku berjalan di setapaknya.

Di dunia yang serba publikasi ini, semua kebahagiaan dan kesedihan jadi satu, sama-sama disiarkan pada dunia. Pada siapapun yang menggeser layar dan berada di suatu ruang bernama media sosial. Lalu, opini kembali pada kepala masing-masing yang melihatnya, ada yang suka untuk hal bahagia, ada juga yang sebaliknya. Ada yang sedih untuk suatu duka, ada juga yang sebaliknya.

Ketika kata dan rasa senada…
Apapun tujuannya, ketika kata dan rasa senada, maka yang hadir adalah kelegaan. Ntah diberikan perhatian atau tidak, maka kelegaan dengan jujur akan datang. Itulah yang biasanya hadir menjadi suatu “bahagia” dan “sedih” dengan rupa yang sebenarnya.

Ketika kata dan rasa berlawanan…
Apapun tujuannya, maka yang hadir adalah kelelahan. Lelah bersembunyi dalam rangkaian kata bahagia yang semu, sedih yang berbohong, atau biasa saja yang sebenarnya tak biasa.

Ruang bebas sebenarnya memang bebas, jadi kenapa harus terperangkap?
Itu yang sering aku tanyakan padanya yang sedang kelelahan di tepi jalan. Katanya, tak sanggup lagi bibirnya bicara, jemarinya menari, dan tentunya sepasang matanya melihat hingar bingar campuran kesedihan dan kebahagiaan yang dipublikasikan.

“Bukannya itu ruang bebas? Biar saja mereka begitu, karena itu kata dan rasa milik mereka,” kataku dalam hati, hanya dalam hati.

Awalnya aku tak paham mengapa kebahagiaan dan kesedihan orang dipakainya jadi sebuah parameter tanpa bertanya pada orangnya “benarkah ia senang? benarkah ia sedih?” Lalu lupa bahwa dirinya sendiri punya rencana bahagia yang tak terukur sama dengan milik orang lain. Namun, aku ingin mendengarkan kata dan ungkapan rasa darinya. Pasti disana ada alasan.

Ia datang padaku dengan wajah kusut, tampak lelah, dan begitu cemas.
Ketika itu, aku masih banyak bertanya, hingga akhirnya kulihat tangisnya.

Air matanya tumpah untuk sebuah ketakutan. Kubiarkan, pergi saja rasa takutnya bersama air mata. Aku tunggu sampai ia tenang. Sampai ia bisa menapak bumi yang sudah lama ia tinggalkan saat ia memilih berdiskusi dengan bayang-bayang.

Aku dengannya bicara sebagai teman. Aku pendengar dan ia penutur.

“Tak apa sedih… tapi biarkan katamu keluar dengan isyarat kalau kau sedih. Orang mana yang tak pernah sedih?” kataku untuk tangisnya saat itu.

“Iya, aku terlalu menyiksa diri selama ini. Setelah kubayangkan, tubuh dan hatiku sudah lelah, berlawanan dengan logika yang aku buat sendiri,” jawabnya.

Ia tuturkan lagi banyak cerita tentang bagaimana kecemasannya menjadi-jadi, membuatnya meringkuk kalah di pojok kamar. Tak ingin keluar, tapi tak juga merasa nyaman di dalam.

“Lalu?” tanyaku singkat.

Ia tertawa kecil sambil mengusap air matanya. Tawanya mengundang senyumku. Aku tahu, ia pasti mengerti seperti apa jalan di depan yang harus ia lalui. Aku percaya ia bisa.

Kami pergi dari tempat bicara. Berdua terpisah dalam jalan yang berbeda. Ia kembali pada dunia penuh warna yang diharapkan banyak wanita dan katanya berbahaya, dan aku kembali ke kamarku yang tahu apa adanya aku.

A psychology learner who love to listen your stories and write them on the paper

Leave a reply:

Your email address will not be published.