Cangkir demi Cangkir

Aku minum teh dari cangkir kesekian di hari ini. Baru hari ini aku merasa bisa menghirup udara lebih tenang lagi seperti hari-hari penutup Juli. Pengawal Agustus menyajikan hari-hari tidak biasa hingga rasanya butuh tenaga ekstra. Namun, aku rasa ada simpanan lega di penghujungnya.

Sruputtttt…
Alunan teh hijau sampai di lidah. Aku ingat bahwa Juli punya bagian yang indah-indah. Suatu hari aku pernah bermimpi membuat sebuah buku untuk anak-anak dan Juli berhasil mewujudkannya dengan apik. Aku senang dan lega, tepatnya tanggal 28 Juli 2018, buku itu resmi diluncurkan dengan bantuan tenaga malaikat yang dikirim Tuhan ntah darimana. Namanya “Cerita dari Balik Jendela”, saudara muda “Ketika Hati Bersuara” yang telah habis tak lagi kupunya cetakannya. Keduanya adalah rasa-rasa hatiku atau rasa hati seseorang yang begitu baik mau dibagi denganku. Pada dasarnya aku tak pandai tunjukkan kasih jika kita belum dekat, lewat tulisanlah biasanya aku bisa sampaikan. Kata-kata hati itu bisa teman-teman temui di https://www.instagram.com/kori.anthologia/
Srupuuuttt…
Teh hijau menangkan rasa di lidahku lagi. Bayangan wajah anak-anak panti asuhan sampai pada kepalaku, ntah dibawa otak kanan, kiri, atau kerja sama di antara keduanya. Intinya, masih tentang penghujung Juli yang membuka sebuah lingkaran baru, yaitu hadirnya kembali kelas literasi emosional Bounceback. Oh, pernahkah aku bercerita tentang Bounce Backs sebelumnya. Ia hadir di kepala sejak tahun 2017 lalu, kemudian kuberanikan wujudkan. Intinya, melalui bounceback, aku ingin kita semua belajar tentang kesehatan mental lebih dini. Aku berangkat dari kesadaran bahwa kesehatan mental tidak atau jarnag kita pelajari sejak dini, akhirnya luput dan menjadi bom waktu untuk lahirnya “sakit” di kemudian hari tanpa kita sadari. Kelas bounceback Chapter 1 diadakan di RPTRA Rasamala, sedangkan Chapter II saat ini tengah dijalankan di Panti Asuhan Tebet. Teman-teman bisa ditemui di https://www.instagram.com/bounceback.id/
Isi cangkirku habis, aku isi ulang lagi untuk lanjutnya percakapanku dengan kamu.

Sruputtttt…
Yang ketiga membawaku pulang ke rumah. Tentang “sesuatu” yang aku namakan tuntutan tetapi tak juga dirasa menuntut oleh siapapun itu. Rumah buatku adalah sesuatu yang berbeda, sebuah tanggung jawab yang tidak bisa aku biarkan hanya berwujud kata, tetapi lebih pada kerelaan untuk menjadi pengabdian. Hubungan yang terjadi tidak lagi bicara dekat atau jauh, tetapi sesuatu yang akan abadi selama aku masih hidup, ntah dekat maupun jauh. Awal Agustus membuatku lega karena perlahan berakhrinya drama pengabdian yang ku rasa terlalu banyak ketidakpastian.

Srupuutttt…
Yang keempat ini agak berat memang. Penghujung Juli menyajikan keraguan yang kurasa pernah aku pendam dan aku -abaikan keberadaannya- dan kini menuntut perhatian. Bisa dibilang ia memenangkan perasaanku untuk tetap ragu hingga teh di cangkirku sore ini habis ku telan. Tentang dengan siapa aku akan menjalankan masa depan. Jika aku ingin pergi ke sana lebih cepat, maka sendiripun bisa. Sayangnya, aku ingin pergi ke masa depan lebih jauh, maka bersama adalah pilihan yang tepat. Dengan siapa? Tuhan sedang menguji kemampuanku menjawab pertanyaan ini. Tidak ingin aku serahkan begitu saja pada waktu. Aku ingin ikut jadi penentu. Namun, ku biarkan ia berlalu -pelan-pelan- selayaknya usia yang bertambah perlahan. Aku tidak mau pasrah, tetapi tidak juga mau gegabah. Aku pastikan bahwa pada harinya nanti pasti sudah ku buat sebuah pilihan. Abadi, tak akan terganti.

Isi cangkirku habis lagi…
Namun, percakapan kita sementara harus berhenti sampai di sini.
Aku harus kembali ke meja kerjaku untuk lanjutkan hidupku.

Sampai jumpa di lain hari, teman 🙂

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.