Dear Sekumpul, Banyumala, dan dua kawan

Sekarang masih pukul 02.34 WITA. Aku baru saja bangun dari tidur, baru habis memotong-motong jeruk dan menaruhnya di kulkas. Hmm… baru saja menyelesaikan one day long trip pertama tahun 2015. Mari bercerita sebelum lanjut tidur lagi kita, hahahha


Dear Sekumpul, Banyumala, dan dua kawan


Minggu, 21 Juni 2015

Aku dan Arjun berangkat dari rumah (yang memang berdekatan) menuju tempat janjian sama Wahyu. Rencananya kami pergi berlima, tetapi pagi itu jadinya bertiga saja. Aku, adikku Arjun, dan “bro” Wahyu. 


Memang paling seru travelling di Bali itu pakai motor. Nah, jarak pandang mata jadi tetap luas dan membiarkan kulitmu disapa hawa-hawa yang semakin dingin sepanjang jalan Tabanan-Singaraja. Tujuan kami kali ini adalah Bali Utara, Buleleng! Wahyu mula inspirasi tiyang, wkwkwwwkwk. Tour guide kali ini Wahyu. Lucunya, hampir semua tempat yang ia tanya, *aku dan Arjun* belum pernah datang. LoL


Tujuan pertama kami adalah Sekumpul Waterfall.

Kira-kira perlu dua jam dari Denpasar untuk sampai disana *sampai loket tiket masuk maksudnya, hahaha*. Kalau benar-benar sampai air terjunnya, perlu lima belas menit lagi lah untuk turun tangga. Waktu itu kami sampai disana sekitar pukul 09.15 WITA, bayar tiket masuk Rp 5.000,00 per orang dan parkir motor Rp 2.000. Nah, keuntungannya kalau kalian bawa motor adalah masih bisa parkir mendekat ke air terjunnya. Yah, itung-itung simpan energi jalan untuk turun tangga. Lumayan…


Hmmm… di Sekumpul ini menim penunjuk arah. Jadi, kami sempat bingung sih dan bertanya dengan warga. Ingat ya! Prinsip jalan-jalan “mau bertanya, sukses di jalan”. Tangganya cukup terjal, hmm tapi beruntung tidak basah sehingga tidak licin waktu dilewati. Setengah perjalan, akan ada pondok untuk istirahat sebentar. Nah, darisini kita sudah bisa lihat air terjun yang indah. Ini sangat memotivasi lah ya untuk turun lagi dan go go go*nyemangatin diri sendiri yang sadar kurang olahraga*. 


Sehabis lewat tangga, kami disambut jembatan kayu dan persimpangan, ke kiri ada dua air terjun dan ke kanan ada tiga. Kami pilih ke kiri karena Wahyu sudah pernah ke kanan. Kami melewati jalanan tanah dan lembab, lalu menyeberang.


DAN

Tiga kesalahan yang terjadi adalah “aku salah pilih sendal”,  “salah bawa tas”. “salah pakai celana”. Pakailah, sendal yang bawahnya tidak licin, tas gendong nyaman, celana pendek (kalau mau ganti dulu, dekat jembatan ada toilet). Ya sudahlah, basah-basah sudah ini celana, maju terus! Hahahaha

Kami sampai…. sampai di dekat air terjunnya, kaki masih gemetaran rasanya, tapi yaaay!


Sekumpul Waterfall

foto aku ambil sambil duduk di batu pinggiran air terjun 🙂 #SekumpulWaterfall


Batu-batu yang dilewati air terjun ini cukup besar, sehingga kita sudah bisa merasakan cipratan airnya saat melewati jalan tanah. So, semakin mendekat ke air terjun, semakin basahlah. Aku masuk ke genangan airnya, mendekat lagi dan lagi ke arah sumber. Aku pasang posisi menghadap air terjun, membiarkan diriku basah kena cipratan air, menutup mata sebentar, SEGAR! Haaaah, senang, lega, tenang. Suara air terjun yang gemuruh tapi melegakan ini yang akhirnya aku rasakan langsung. Hijau lebatnya hutan di sekitarnya dan kami yang lagi-lagi tersadar bahwa wisata alam itu part of heaven!

Kami sudah basah tanpa berenang, hahaha.


Pukul 10.30 kami selesai *kocel-kocelan* (main air). Waktunya kembali menjejaki tangga-tangga yang sekarang arahnya berubah ~naik. Mulai atur nafas satu-satu *sadar lagi kalau badan semakin berat, huhuhu~



Yaa, kira-kira pukul 11.30 kami sudah keluar dari loket tiket Sekumpul. Lalu, waktunya….. “makan”. Wahyu mengajak berhenti *hmm, keliatan memang seperti rest area” dekat arah ke Danau Tamblingan. Kami makan bakso, memang enak deh habis dingin-dingin, celana maish basah, makan yang hangat-hangat berkuah, yuhuuu!

Aku makan banyak tambahan camilan lain < sumpah ini anak! Kenyang dan murah keleuuus, hahaha :p Kami makan bertiga, cuma Rp 36.000


Lanjut!

Kita akan ke air terjun lagi, namanya Banyumala. Jalannya ke arah Danau Tamblingan, nanti di kanan jalan akan ada papan nama Banyumala Waterfall, belok yaa jangan lurus, hehe.


Widiiiih, ternyata sekarang bisa lebih masuk lagi motornya. Huft, ada satu jalan setapak, so pastikan motor kalian tidak melenceng, hahaha kalau melenceng, maka…. *nggak jadi ketemu air terjun~


Tiket masuknya Rp 10.000,00 per orang dan kami dapat satu anak laki-laki bernama Komang sebagi tour guide. Motor diparkir dipinggir persimpangan dan kami harus berjalan. Makin-makin nih, kalau di Sekumpul ada tangga, kalau disini semuanya masih tanah-tanah, ada pijakan bambu serupa tangga dan ada tangga bambu yang harus kalian panjat, parah kereeeeen lah perjalanannya *apalagi kalau sendal tidak licin, huft~


Taraaa….

Banyumala Waterfall

taken by Komang- #BanyumalaWaterfall

 Inilah kami bertiga, dari kiri ke kanan ada Arjun, aku, dan Wahyu. Huaaa, Y.O.L.O banget sudah, basah-basah aja udah supaya sampai di tengah ini, sampai siku lecet gara-gara salah langkah, hahahahaa. Hmm.. tapi yang gini-gini nih yang bikin berkesan. Air disini tidak sebesar di Sekumpul, tapi batu-batunya cantik banget!


Pukul 14.30 WITA, kami memutuskan untuk naik kembali karena tidak ingin kemalaman kembali ke Denpasar. *yuhuu…


Dengan hashtag #biarPutriseneng, mereka ajak aku ke Danau Tamblingan, maklum aku sendiri belum pernah, haahaha! Pukul 15.00 WITA, kami sampai disana, tidak terlalu jauh dari Banyumala ini. Jauh dari perkiraan, aku pikir akan ramai seperti Danau Beratan, tapi ternyata sepi dan letaknya tidak dipinggir jalan. Terasa tenangnya, riak air yang pelan-pelan. Kami menuju akar-akar pohon tumbang dekat danau untuk duduk. Kata Wahyu ini lagi hits di ig, hahaha. Sayangnya, HP kami bertiga mati semua, hahahaha, tidak bisa mengabadikan lewat gambar deh, huhuhu


anyway follow akun instagram Wahyu ya di @iwwm dan Arjun di @arjunsuputra , seru deh foto-fotonya! Yaa, mereka memang hobi foto sih, kalau aku mah hobi difoto #ups!




Seperti biasa, aku selalu diberi lebih oleh sebuah perjalanan, yaitu… *pembelajaran*

Baiklah kita mulai…


Banyak yang cukup ribut, katanya Bali berubah.

Tidak kalah banyak yang juga ribut, bahwa Bali indah.

Menurutku, yang terjadi memang keduanya. Kamu sedang berpijak dimana? dan memandang dari sudut pandang mana?


Menurutku lagi,kadang sesuatu itu memang harus berubah supaya bisa fit dengan -hal signifikan lain, seperti hidup- yang memang sekodratnya berubah. Tiap orang mau lebih baik, bukan hal yang salah kan? Mau tumbuh dewasa dan tidak jadi bayi lagi, wajar bukan? Mungkin sebagian dari Bali sedang begitu. Tinggal seperti apa ya rupa yang sebagian sedang tumbuh dewasa itu? Tergantung siapa yang sedang menulis di kertas kosongnya, tergantung kita.


Lalu, sebagiannya lagi tetap original seperti ini, seperti kita yang mau seperti apapun tumbuh dewasanya, tetap disebut *manusia*, tidak berubah nama, hakikat, dan kodrat akan mati suatu waktu nanti.  Dalam ketenangan nafas, ditemani hijaunya daun-daunan, gemericik air, cipratan air yang serupa gerimis, batu-batu yang menyentuh telapak kaki, alam berikan itu semua. Aku sampai di tempat original. Boleh aku tarik hembus nafas panjang? Haaaaaaaaaaah… aku suka yang ini.




Putri

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.