Gara-Gara Raf!

Hari ini istimewa karena ada hal “pertama” yang terjadi. Semuanya diawali oleh pesan singkat dari salah satu panitia sekolah non formal yang aku kenal, sebut saja dia Raf. Isinya : “Kak, bisa kasi pembekalan untuk volunteer teacher kah?” Setelah memastikan waktunya cocok dengan jadwal ke klinik, aku memutuskan “meng-iyakan”.

Saat itu, aku langsung bepikir bahwa nantinya aku akan memberi pembekalan kepada volunteer teacher baru di sekolah non formal itu. Kebetulan aku pernah melakukannya juga tahun 2016 lalu.

Seminggu kemudian, tibalah surat undangan mengisi pembekalan ke e-mail. Aku kaget karena kop suratnya merupakan organisasi skala internasional, bukan sekolah non formal yang aku pikir. Disana ditulis bahwa aku akan memberikan pembekalan mengenai “mengajar anak-anak”, tepatnya:
……..Acara ini berkenaan untuk mempersiapkan para EP (Exchange Participants) untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) di TN (trainee nominee)…….

Saat itu aku berpikir –Oh yasudah tidak masalah- Mungkin mahasiswa Indonesia yang akan pergi ke luar negeri perlu pembekalan. Ini memang belum pernah aku lakukan, jadi aku tak sabar menunggu TOR untuk mempersiapkan materi pembekalan.

Seminggu kemudian, tepatnya awal minggu ini, aku berkomunikasi lagi dengan Raf. Aku bertanya,”Mereka akan mengajar dimana memangnya? Aku perlu tahu gambaran anak-anak yang akan mereka ajarkan”.

dan …. jeng jeng! Raf menyebutkan EP akan mengajar di Indonesia. Byaaaarr!!! Berarti peserta pembekalannya adalah mahasiswa dari berbagai negara.

“Full English ya kak” kata Raf dengan tambahan emot senyum.

Kaget? Iya!
Ngasi pembekalan ke mahasiswa memang pernah, tapi mahasiswa Indonesia. Presentasi bahasa Inggris memang pernah, ngobrol pakai bahasa Inggris, ya juga pernah. Tapi, untuk aku sendiri, “pembekalan” itu punya arti lebih daripada presentasi di konferensi, atau ngobrol pakai bahasa Inggris. Jadi ….. makin kalut lah pikiran ini…. Waktunya tinggal dua hariiiii. Dan kamu sendiri. Byaar!

Mulai ada godaan untuk .. “ya ampun put daripada mereka nggak ngerti dan nggak nangkep, mending kamu nggak usah ajaaa…”
tapi untuk bagian baik di otak ini bilang,”Sudah dikasi kesempatan coba yang pertama, masak gamau…. Memangnya mau coba kapan? Pasti ada saat pertama kan?”

Setelah Raf bulan lalu membuat aku “pertama kali” sharing di depan puluhan orang tua sekaligus di dalam kelas (sebelumnya cuma pernah satu per satu waktu home visit GUIM sama bagi rapot). Sekarang Raf membuat aku “pertama kali” memberi pembekalan dengan bahasa Inggris ke mahasiswa asing. Luar biasa, semua gara-gara Raf!

Untuk pertama kalinya sejak bulan Mei sampai sekarang, aku bangun pukul 02.00, untuk latihan memyampaikan materi, latihan “games”, latihan memberikan instruksi simulasi, latihan ice breaking dengan bahasa inggris. Plus memanfaatkan waktu mandi pagi untuk latihan lagi. Ternyata dua hari jadi tantangan juga, wkwkwkwk

Hari Ini

Sampailah di hari ini. Pagi-pagi Raf datang menjemput. Ternyata tempatnya jauh, hahahaha.
Huhuhu… di dalam perjalanan perut rasanya gulu-gulu. Sampai di tempat pembekalan juga rasanya masih gulu-gulu.
Setelah dipanggul maju….
Byeeee…. gulu-gulu

Semua berjalan….. yah menyenangkan! EP dan panitia semuanya menyenangkan dan suportif. Aku sendiri bisa mengevaluasi “kadang aku masih kesulitan memilih kata yang tepat dalam bahasa Inggris, terutama untuk menggambarkan sebuah rasa”, wkwkwk

Ketika penyampaian materi, simulasi, dan sesi latihan ice breaking selesai yang aku lakukan adalah meminta maaf atas segala kekurangan dan berterima kasih untuk kesempatannya.
Satu yang bikin terharu adalah….

Ketika selesai, satu EP dari Belanda bilang ke semuanya untuk “Let’s give prok prok wush for Putri” dan merekapun prok prok wushhhh…… :”))

Lalu, satu EP dari China melanjutkan obrolan tentang kekhawatirannya ketika bertemu murid-muridnya lagi.

—–

Yah…. sekian cerita Gara-Gara Raf!
Pesannya?
Ketika dapat kesempatan, cobalah. Mungkin ada devil yang ganggu suruh nyerah, usir aja. Persiapkan. Ketika ada yang salah, berdoa agar dapat kesempatan lagi untuk memperbaiki.
Pesan lainnya … bertanyalah dengan sejelas-jelasnya agar tidak memunculkan kesalahpahaman seperti Putri, wkwkwk

A psychology learner who love to listen your stories and write them on the paper

Leave a reply:

Your email address will not be published.