Habis Terisi, Hilang Terganti

Habis segera terisi
Hilang segera terganti
Mengerti?

***

Segera aku ambil laptop ketika sampai di kamar lagi. Hari ini harus ditulis. Begitu kataku, padaku…

Pagi ini aku bertemu dengan banyak orang, ada yang baru dan ada yang lama. Persamaannya, semuanya melakukan hal yang baru.

Pertama
GUIM 7
Aku mendapati diri duduk diantara calon-calon penggerak untuk Gerakan UI Mengajar (GUIM 7). Aku masih ingat kalau tahun lalu, aku hampir sama dengan mereka, yaitu … banyak bertanya. Satu jam lebih tidak terasa kalau temanya “berbagi cerita”. Semoga sukses Gesti, Sekar, Mayah, dan semua tim yang akan menggerakkan GUIM 7. Selagi ada niat, disana ada jalan. Ini pepatah lama, tapi tak akan pernah kadaluarsa.

Kedua
HIV
Aku pertama kalinya datang ke Kedai Ekspresi, disana pun bertemu dengan orang-orang baru, khususnya anak-anak dengan HIV. Sebenarnya bertemu dengan ODHA bukan hal yang baru, aku banyak belajar dari mereka. Namun, lebih spesifik lagi ke anak-anak dengan HIV, ini adalah kegiatan yang aku ikuti.

“Kita perlu mendukung mereka, membuat mereka tidak membenci orang tuanya ketika dilahirkan dengan kondisi seperti ini. Agar mereka tetap mau rutin minum obat.”
“Mereka butuh banget bimbingan psikologis, supaya tetap mau minum obat. Banyak yang mulai bertanya-tanya kenapa mereka harus minum obat setiap hari dan itu bukan satu obat saja. Sebagia besar dari mereka juga sudah yatim piatu kan.”
“Sekarang ARV sudah tidak sulit didapatkan, tapi kemauan untuk mengonsumsinya itu yang harus didorong lagi kepada anak-anak.”

Aku baru tercerahkan dan tersadarkan bahwa ada kelompok anak-anak yang belum pernah aku pikirkan sebelumnya. Disinilah aku banyak belajar, belajar dengan cara mencoba langusng berinteraksi dengan mereka bersama Komunitas Kuldesak dan Institut Musik Jalanan Depok, serta banyak lagi teman-teman yang ikut. Kebahagiann mereka sekarang sudah jadi bagian dari bahagiaku juga.

Mereka sama dengan anak-anak biasanya, suka berlari, suka bermain, bersemangat ketika pembagian hadiah, cerdas, walaupun beberapa aku temui bermasalah dengan kemampuan fisiknya, tapi tidak dengan interaksinya. Mereka punya tantangan tersendiri, terlahir dengan kondisi dengan HIV, sehingga harus rutin minum obat. Kata orang tuanya, semakin besar, mereka semakin bertanya-tanya kenapa harus minum obat. Yap, mari kita bayangkan sejenak kondisinya, maka kamu sedikit tahu harus berbagi dengan cara apa.

Disinilah aku merasa energi habis tapi segera terisi, energi hilang tapi segera terganti

Ketiga
Coffee Shop
Mampir ke coffee shop. Hihihi, aku bukan orang yang kuat dengan kopi, sedikit saja, perutku bisa panas, wkwkwk, tapi teman mengobrolku sekarang sangat suka kopi. Kalau pada dia bisa bertanya,”Coffee shop mana yang belum kamu datangi?” kalau sama aku bisa tanya,”Coffee shop mana yang sudah kamu datangi?”

Aku suka ngobrol sama orang, suka banget dengerin cerita orang lain, berbagi sudut pandang, dan disanalah energi rasanya terisi lagi. Ternyata ada satu hal yang sama dari kami, yaitu bahagia jika “menolong orang lain” dan hal sama lagi adalah ketika “menolong” versi kami adalah “membuat seseorang bisa menolong dirinya sendiri”.

Kami menyimpulkan sesuatu, yaitu “menolong” adalah sebuah tindakan yang punya gradasi. Bisa jadi kamu menolong dengan cara memberikan yang orang lain butuhkan, atau menolong dengan cara membuat seseorang bisa mendapatkan sendiri apa yang ia butuhkan dengan menyadarkannya akan banyak sumber daya yang bisa ia gunakan (ini main di mind and attitude banget menurutku, tapi disanalah kami ingin mulai melangkah).

Aku senang bertemu seseorang yang punya semangat ini. Mendengar sudut pandangnya yang tidak sedikit yang berbeda dari aku dan berhasil didamaikan dengan “Iyaah, ada banyak jenis orang, ada banyak jenis situasi…”

Thank you Debbi!

Disinipun sama rasanya … energi habis tapi segera terisi, energi hilang tapi segera terganti

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.