Ingin Dipandang Seperti Apa?

Rasanya mudah sekali berangan-angan yah… “kamu ingin dipandang seperti apa?”
Jawaban standar: – semua orang ingin dipandang baik –
Jawaban penuh keraguan: – nggak tahu ingin dipandang seperti apa-

Aku pernah menemui keduanya. Ada yang punya harapan, ada juga yang (bukan tidak punya harapan) sulit menentukan harapan. Bagi sebagian orang menetapkan tujuan atau harapan adalah hal semudah meletakkan kepala di atas bantal, lalu tidur. Toh berharap itu gratis. Aku golongan yang ini.

Namun… faktanya tidak semua begitu. Ternyata sebagian dari kita sulit sekali untuk menentukan tujuan atau harapan. Ada yang berpandangan bahwa -kalau berharap, nanti sedih waktu tidak tercapai- ada juga yang – nggak tahu maunya apa-.

Kedua kelompok ini punya tantangannya. Kelompok pertama, ditantang untuk mewujudkannya dan tidak kecewa jika tidak tercapai seperti yang ditakutkan sebagian kelompok kedua. Lalu kelompok kedua juga punya tantangan, terombang-ambing menunggu sesuatu memutuskan tujuan mereka.

Sama-sama sedang menghadapi tantangannya sendiri. Tinggal dipilih, mau masuk yang mana.

Tapi… pembahasan saat ini akan lebih ditekankan pada “usaha” untuk mencapai “ingin dipandang seperti apa”. Bentuk kegelisahan yang aku rasakan beberapa hari ke belakang ketika bertemu dengan orang-orang yang “mau mencapai ingin dipandang selayaknya sesuatu” tapi “tidak betul-betul berusaha”.

Sebagai orang yang tumbuh tidak dengan “segalanya ada tinggal nikmati”, jadi mereka kenal yang namanya “berjuang”. Kalau mau “mencapai” ya harus “berjuang”.

Berjuang itu yang seperti apa?
Hmmm… setiap orang punya definisinya sendiri-sendiri. Bagiku, berjuang adalah berani untuk terus melangkah menjalani proses, kadang bisa berlari dan cepat, kadang juga harus perlahan karena tak mudah. Namun, terus berupaya, bisa disebut dengan persisten atau kalau pernah dengar istilah “grit”, itulah.

Kenapa aku sisipkan kata “berani”?
Karena itulah yang kadang aku temukan jadi pembeda antara orang yang benar-benar berjuang dan tidak. Kadang bukan karena “dia punya potensi atau tidak”, tetapi “berani atau tidak memakai potensi yang ada”.
Penuh pertimbangan sering jadi alibi untuk menunda, tetapi yang selalu aku ingat adalah waktu terus melangkah maju dan pikiran serta langkahpun harus maju. Ada masanya kita harus berani berhadapan dengan sifat “ketidakpastian dunia ini, kuncinya? Kreatif! Jadilah orang yang banyak akal. Bukan menunda dengan alasan mempertimbangkan, lalu lewatlah kesempatan yang katanya datang hanya satu kali.

Banyak akal atau kreatif, bukan sepenuhnya pemberian dari lahir, tapi membiasakan diri. Semakin terbiasa mengambil langkah, maka disana kreativitas diasah.

Kegelisahan berikutnya muncul saat kutemui orang yang “menyerah sebelum mulai melangkah”.
“Duh, pagi banget… gabisa bangun!”
“Duh, rame banget… malu!”
“Duh, kurang persiapan… nanti nggak maksimal!”
Lalu…. memilih ke titik nol yaitu “tidak sama sekali”, bukannya cari cara untuk “bangun”, cari cara untuk “tidak malu” dan cari cara untuk “memaksimalkan diri”.

Sebagai orang yang tidak suka memaksa, ku kembalikan lagi bahwa itu memang pilihan. Namun, jika berujung malas atau takut gagal, bukankah gagal adalah pembelajaran? Kalau tidak lakukan sama sekali pastilah tak belajar sebanyak saat -gagal-. Nah, gagal bukan hanya perkara mengundur berhasil, tetapi menempa mental. Kalau -malas dan takut- itu dimanja, maka itulah yang tumbuh. Kalau berani itu -ditempa-, maka itulah yang akan tajam.

Gampang ya Put ngomong doang?
Yap, memang bicara gampang, segampang berharap. Agaknya jadikan bicara itu pengingat diri. Kalau lebih galak, jadikan itu pecut untuk membuat langkah lebih pasti. Kita sama-sama belajar. Namun, bukan belajar namanya kalau tak ada perubahan, ya?

Kembali lagi pada “ingin dipandang seperti apa?”
Jika dimaknai lebih dalam, pertanyaan itu bukan hanya sekadar mengingatkan pada -harapan-, tetapi juga -upaya- mewujudkan harapan itu. Susah? Lelah? Itulah tanda berusaha. Tidak apa tidak cepat hasilnya tercapai, toh kita selalu berdoa agar dipanjangkan umurnya. Tambah lagi doa, agar dipanjangkan semangat berusahanya.

***

Sebagian dari kita… ingin dipandang baik, ingin dipandang hebat, ingin dipandang pintar, ingin dipandang ahli… tetapi tak benar-benar berupaya seperti itu. Sebagian lainnya memilih tak berharap, dan aku pun tak tahu seperti apa -upaya- selain menunggu pada mereka yang tak berharap.

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.