Ketika Ia: Antara Titik Nadir dan Transisi

Ia tengah dalam masa transisi, dari titik nol yang sempat diceritakan kemarin. Sebuah proses yang tidak biasa, tentu berhasil memberi banyak pembelajaran

Januari, sampai pada titik nadir

Mengawali januari ia sampai pada titik nadir, tepatnya tanggal 4 Januari 2019. Bayangkan saja, ini adalah rangkaian cerita dari sebuah buku yang bercerita tentangnya. Ia sedang membaca sebuah buku cerita dengan topik yang benar-benar baru, tidak pernah ia tahu. Ia sampai pada bagian cerita tentang “sesuatu” yang mengharapkannya tak lagi berdaya, dan bahkan mungkin berupaya membuatnya tak lagi ada. Hal itu sempat membuatnya terkejut, bingung, dan perlahan menuju nadir. Pun ketika ia tahu bahwa upaya itu sudah dimulai 6-7 tahun yang lalu. Waktu yang cukup lama ketika baru kali ini ia memahami ceritanya.

Titik nadir, titik terbawah, begitu mendasar. Sebelum ini, tidak ada yang lebih bawah dari kemarin itu rasanya.
Perjalanan yang bisa dibilang panjang. Dalam hitungan nyata memang hanya berlalu sebulan, tetapi bagi masa yang lain rasanya jauh lebih lama dari itu. Satu per satu cerita yang tidak pernah diberi tahu – akhirnya terbuka. Ia yang awam dengan penjelasan seputar lapisan dunia tak terlihat itu seakan berada pada ruang yang di sekitarnya terdapat berbagai macam lukisan senada yang sebaiknya ditemukan maknanya.

Ia berjalan dari satu lukisan ke lukisan lainnya. Dari jauh tampak sama, tetapi ketika lebih dekat, dilihat lebih lama, lebih teliti, ada detail yang berbeda. Seperti itulah kadang sebuah cerita sampai, dari satu dan sumber lainnya, kadang tampak serupa, tetapi lebih dalam kamu membawanya, maka ada sesuatu lain yang akan tertangkap berbeda. Namanya rasa di antara.

Ketika ia berada di antara
Ketika ia tengok ke kiri, tampil sebuah lukisan dengan langit sore, ada seseorang berdiri menatapi. Awalnya terlihat mengagumi langit, tetapi lama kelamaan terlihat kaca-kaca pada matanya, seakan esok tak lagi ada sore seperti ini.

Ketika ia tengok kanan, tampil juga lukisan dengan langit sore, ada seseorang berdiri menatapi. Ia terlihat mengagumi langit, terus menatap seakan-akan tak ingin melepaskan sore menjadi malam. Hingga mungkin ia terlambat mengejar terang untuk akhirnya pulang.

Ia menengok ke tengah, dirinya. Menemukan kaki yang tidak menuju kiri maupun kanan. Ia di tengah, segala kemungkinan berada di antaranya.

Di tengah itu, ia pilih berdiam di situ. Menengok kiri ketika ia ingin paham bahwa yang terjadi hari ini mungkin tak bisa terjadi lagi esok, syukuri selalu. Menengok kanan ketika ia ingin paham bahwa terlalu terpaku pada satu hal dan lupa pada seperti apa diri pada dasarnya, maka membuatmu mungkin kesusahan untuk pulang.

Ia sampai pada pemahaman mendasar untuk berada di tengah, di tengah kuasa-Nya, bahwa kemungkinan berada pada semesta dan pemiliknya, bahwa ia manusia yang sedang menghadapi titik nadir. Ia manusia yang sedang dituntun kembali pulang.

Ia temukan jawaban, bahwa ia diminta pulang. Segera, tidak berlama-lama meragu di antara, tetapi segera yakin untuk menikmati posisi di antara.

Sampailah ia di masa transisinya
Ia mantap berada di antara. Cerita boleh jadi cerita yang sampai padanya dengan segala cara, bahkan yang sebelumnya tak terkira. Sampailah pada kenyataan demi kenyataan, tetapi ia mantap berada di antara, di antara pengaturan terbaik-Nya, di antara karena yang telah dirangkai-Nya, dan di antara tujuan yang telah dipersiapkan-Nya.

Letak dan kemantapan itu membuatnya tenang. Lagi-lagi mengingat bahwa ia hanyalah manusia yang menjalankan peran sebaik mungkin di dunia, sisanya diatur olehnya. Termasuk masa nadir dan bertransisi untuk pulang. Tak punya apa-apa karena ia hanya dititipkan oleh-Nya, pun ketika ada yang ingin mengambil sesuatu bahkan sebuah nyawa, sila membuat perhitungan dengan-Nya. Tak punya aturan pasti akan apa-apa, pun ketika ada yang bersikeras itu tak bisa atau pasti bisa, silakan memastikan pada-Nya.

Begitulah awalnya, ketika ia menjalani masa transisi dari titik nadir.
Bahwa segala yang melemahkan, adalah sesuatu yang berurusan dengan karunia-Nya.
Bahwa segala yang menguatkan, adalah kebaikan hati yang sebenarnya untuk-Nya.
ia seorang penerima.
ia seorang pejalan yang berupaya karena dan untuk-Nya.

Telah lama rasanya ia tidak pulang, hingga akhirnya ia sampai pada nadirnya.
Saat ini, ia memilih pulang, menuju rumah yang paling besar.


Ia berterima kasih pada nadir.
Syukurnya tak terberi
Tubuhnya disegarkan air suci
Nafasnya dibawa lebih damai
Ia pun sadar
Tentu pulang butuh upaya,
maka ia sekarang tengah dalam upaya
Transisi menuju pulang.
Supaya sampai dengan selamat,
maka ia berupaya sebaik-baiknya seorang manusia
Melalui segala rupa masanya
Satu baru saja dilewatinya,
sebuah nadir yang sempat buatnya tak berdaya

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.