Menikmati Hari-Hari Pasca Wisuda

Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus?
Itulah pertanyaan yang muncul di tengah-tengah skripsi. Satu kalimat yang menolong menjawab adalah “Start from the end of the mind!” Ketika tahu apa yang akan dilakukan dan yang akan jadi tujuan, maka semangat untuk menyelesaikan skripsi jadi berlipat-berlipat.
Mulailah aku menulis banyak sekali hal yang ingin aku lakukan setelah lulus.
Lalu, benarkah itu terwujud? Jawabannya …. “tidak semua”.
Sedih? Tentu saja tidak!

Sebenarnya, rencana setelah lulus adalah mencicipi rasanya –bekerja- yang tentu saja menggunakan ilmu psikologi yang telah dipelajari. Bekerja dimana? Pertimbangan pertama adalah “mau kerja di Bali deh” lalu yang kedua “Mau di NGO”. Mulailah membuat daftar tempat yang akan didatangi untuk melamar (ciee… melamar).

Nggak mau langsung ambil S2 Put?
Nah, aku merasa perlu waktu untuk memantapkan diri untuk studi lanjutan karena ingin benar-benar bermakna dan sesuai dengan apa yang disebut dengan passion.

4 Februari 2017
Akhirnya wisuda. Semua rasanya lega dan bahagia hari itu – hari itu yaa, hehe. Kemudian keesokan harinya juga masih bahagia, sampai akhirnya menuju ke Bali tanggal 7 Februari, tetap rasanya bahagia.
Anehnya, ada rasa “hmm, apa lagi yaaa” ada rasa geregetan kalau diam di rumah. 13 hari di Bali juga diikuti dengan lihat sana sini, lihat sana sini untuk memenuhi keinginan untuk mengembangkan diri.

Kembali ke Depok lagi
Berhubung ijazah dan berkas-berkas lainnya belum selesai dan di Bali belum menemukan “tempat menyelam”, jadi akhirnya memutuskan untuk yasudah kembali ke Depok deh. Sekaligus masih ada beberapa project yang harus diselesaikan dan janji-janji ikut kegiatan.

Ternyata sesampainya di Depok mulai ada beberapa tawaran untuk menyelam, tapi waktu itu hati masih teguh dengan daftar yang sudah dibuat (yooo…. Konsisten). Ada beberapa daftar NGO yang langsung aku telepon untuk bertanya mengenai kesempatan intern di bidang yang aku inginkan.

Hmm… nggak semudah itu ber-karier di NGO ternyata, apalagi ketika “full time in volunteer life” belum bisa dilakukan. Aku sih suka bangeeeetttt sama kegiatan sosial, jadi relawan, dan lain-lain. Namun, ada beberapa hal yang harus aku penuhi, mulai dari kebutuhan keluarga, nabung untuk S2, dan lainnya. Menyatukan antara keinginan untuk terjun di dunia sosial dan tetap memenuhi kewajiban ternyata bukan tantangan yang mudah.

Ditambah lagi dengan banyak tawaran yang menggiurkan, terutama yang mengajakku bergeser dari bidang psikologi klinis-sosial. Parahnya, beberapa daftar NGO yang aku jadikan targetpun sedang tidak membuka magang di bidang yang aku mau, tapi dibidang lainnya yang aku rasa belum –pas- untukku.

Hmmm…
Aku mulai berpikir. Aku suka anak-anak, aku suka menulis, aku suka psikologi, lalu …..

Sampailah aku di kantor Kompas Gramedia
Tepatnya tanggal 3 Maret 2017, aku sampai di ruangan Majalah Bobo. Super duper senang karena sejak kecil aku suka sekali dengan majalah ini. Apalagi ruangannya yang penuh gambar (serupa PAUD atau TK), banyak ornamen lucu, boneka, dan orang-orangnya juga ramah. Hahaha, ada deg-degannya juga karena tiba-tiba diminta mendongeng pakai boneka Bobo, Paman Gembul, dan Coreng. Bertemu dengan Ibu Bapak yang berkarya sejak lama di Majalah ini, sejak aku kecil baru bisa membaca sampai aku wisuda. Haaahh…

Keramahan Bobo membuatku nyaman, nyaman sekali. Ada beberapa tawaran yang membuatku perlu waktu berpikir. Akhirnya tanggal 6 Maret aku memutuskan untuk bergabung dengan Majalah Bobo untuk mengisi www.bobo.id dibimbing oleh Bapak Sigit yang sudah melanglang buana di dunia jurnalistik anak. Kami ingin dunia maya pun ramah anak, dan portal website dan Youtube ini kami persembahkan spesial untuk anak Indonesia.

Aku menyebut ini “berkarya” bukan “bekerja”. Tentu saja ini karya, karya untuk anak Indonesia. Aku bahagia sekali sampai sekarang ada di Bobo dan merayakan ulang tahun ke-44, tepat tanggal 14 April ini. Aku tidak setiap hari pergi ke kantor Bobo, aku bekerja dari rumah, tapi jujur saja setiap hari aku merindukan kantor ini. Saking senangnya di kantor, sampai tidak pernah ingat untuk foto, hahaha

Setelah menjalani satu minggu di rumah baru untuk berkarya, rasanya masih ada gelas kosong dalam diri yang perlu diisi. Hmmmm…. Iya, hal yang ingin aku pastikan adalah apakah aku akan ambil S2 profesi di Indonesia atau S2 terapan di luar negeri. Atau keduaya?

Awal masuk psikologi, memang ingin jadi psikolog, semakin lama di psikologi semakin tahu bahwa minat mengarah ke perkembangan anak dan remaja, lalu sampai di skripsi diantarkan pada kasus gangguan perilaku dan kriminalitas.

Aku pun datang ke suatu tempat untuk belajar…

Sampailah di Kasandra and Associates
Tepat tanggal 13 Maret 2017, aku sampai dan bertemu dengan Ibu Kasandra Putranto, lulusan UI yang sudah 25 tahun berprofesi sebagai psikolog klinis. Pertama kali bertemu dan datang ke kantor ini, ada rasa “Hmmm… sepertinya ini tempatnya.”

Setelah sesi wawancara,dalam beberapa jam ke depan aku katakan “Iya, baiklah baiklah ini tempatnya.”
Aku suka dengan kata-kata Bu Kasandra dan Bu Widi, dua psikolog yang aku temui Senin itu. “Putri harus banyak belajar ya disini.”

Satu bulan di Kasandra and Associates Psychological Practices

Aku mulai intern di kantor ini sejak 20 Maret dan tidak terasa aku sampai di minggu keempat internship. Senin depan sudah tanda tangan kontrak kerja, yaaaayyy. Ketika ditanya,”Setelah internship ini, bagaimana Putri. Mau lanjut?” Tidak butuh waktu lama, aku jawab “Iya Bu, saya lanjut. Masih mau belajar.”

Aku banyak belajar disini. Walaupun tidak jadi di NGO, tapi tempat ini pun membawaku pada berbagai misi sosial yang dikemas dalam program A2G, yaitu program perubahan perilaku yang disusun Ibu Kasandra untuk meningkatkan resiliensi sosial di tengah badai perubahan dan ketidaksiapan mental masyarakat. Wah, serius amat yaa sepertinya. Padahal ini adalah cara-cara sederhana tetapi sering dilupakan.

A2G adalah singkatan dari Attitude Achievement for Titanium Generation, yaitu generasi titanium (logam yang kuat, lebih dari emas) yang memiliki pekerti dan prestasi. A2G juga bisa diartika A to G, yaitu:
A: Attitude and Achievement
B: Big brain
C: care and love
D: dance and exercises
E: eat healthy food
F: fun edutainment
G: Good quality of sleep
A-G inilah yang diperlukan untuk membangun lagi kualitas individu. Program A2G ini sedang kami gencarkan mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Disinipun ada proyek sosial yang membuat rasa NGO tetap ada, yaitu program intervensi untuk warga Rusun Marunda bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk DKI Jakarta.

Bukan hanya itu, sebulan disini sudah banyak rasa yang dicecap, mulai dari asesmen untuk calon pekerja, asesmen korban kekerasan, sidang kasus pelecehan seksual, kasus terorisme, pelatihan Cognitive Behavior – Behavior Activation, seminar dan training di kampus, perusahaan, dan banyak lagi kegiatan lainnya.

Kegiatan-kegiatan baru pun aku rasakan disini dan membuat adrenalin dan dopamine meningkat, jadi bahagia deh (baru habis belajar neuropsikologi doongg, LoL).

Lagi-lagi aku menyebutnya “berkarya” bukan bekerja.
Apalagi ketika Bu Kasandra bilang,”Nanti kita bikin di Bali ya, saya mau pensiun di Bali.” Waaaahhhh bahagia dan bersemangat melanjutkan kuliah.

Dukungan yang besar untuk melanjutkan pendidikan ada disini. Itulah salah satu hal yang membuatku senang. Aku pun semakin mantap bahwa ternyata aku ingin menjadi psikolog dan memang lebih baik aku mengambil kuliah profesi di Indonesia (tempat dimana aku ingin berkontribusi nantinya), mungkin nanti ambil terapan psikologi forensik di luar negeri sebagai langkah berikutnya (ya tidak ada yang tahu, hehehe).

Ternyata aku masih haus, haus belajar, berteman, dan berkarya. Hal ini mendorongku menuju suatu tempat.

Sampailah aku di Pulih @ The Peak

Aku mengagumi Mba Livia Iskandar, seorang psikolog klinis, sejak ia mengisi talkshow saat penyambutan mahasiswa baru (2013). Mba Livia mendirikan Yayasan Pulih yang berfokus pada pemulihan trauma pasca pengalaman negatif, seperti kekerasan, bencana, dan lain-lain. Aku beberapa kali bertukar pesan dengan Mba Livia yang sering bolak-balik Indonesia-Amerika dan berkeliling Indonesia.

Aku senang mendapatkan message Linked-in dari Mba Livia, ajakan untuk main ke Kantor Pulih @ The Peak. Ini adalah anak dari Yayasan Pulih untuk bisa mandiri dalam berkegiatan. Pulih @ The Peak adalah wahana sociopreneur yang memiliki berbagai kegiatan yang dananya akan digunakan untuk kegiatan Yayasan Pulih. Kata Mba Livia,”Kita harus mandiri.”

Aku pun main ke Kantor Pulih @ The Peak dan saat itu juga mengisi formulir volunteer untuk berbagai kegiatan di hari Sabtu dan Minggu. Jadi, Senin – Jumat di Kasandra, lalu Sabtu Minggu bisa ikut kegiatan lainnya dengan teman-teman Pulih (tidak lupa agenda pacaran, teteup yaa haha).

Beberapa kegiatan yang aku ikuti selama di Pulih banyak yang baru mulai dari pelatihan bela diri untuk anak perempuan, lalu screening demensia dan burn out pada caregiver orang dengan demensia, dan Talkshow mengenai psikologi dan film.

Pada satu waktu, duduk dengan Mba Livia, dan ia berkata,”Put, ada keinginan untuk ambil profesi?” lalu aku jawab “Iya Mba, tahun depan rencananya, semoga keterima.” Aku mengatakan itu bersemangat. “Nah, nanti kita bikin Pulih di Bali ya supaya ada psikolog yang berperan untuk kasus-kasus kekerasan disana.” Wah, aku bengong dan senang sekali mendengar ini.

Begitulah Hidup…

Kamu bebas jadi apapun yang kamu mau, yang kamu ingin, yang kamu butuh, yang kamu impikan. Sekali lagi “Start from the end of the mind” Apa impianmu nantinya? Mungkin langkahnya tak bisa sekarang jadi cespleng seperti harapanmu, tapi kalau konsisten, mungkin itu seperti jembatan yang juga akan mengantarkanmu kesana. THINK POSITIVE!

Aku memang berkeinginan berkarier di Bali dan untuk Bali pertama-tama, tentu saja untuk Indonesia juga. Namun, ini ternyata adalah persiapan sebelum pulang, kenal Kasandra Putranto dan Livia Iskandar, dua psikolog keren dan keduanya punya tujuan mulia di Bali, aku jadi merasa “pasti bisa berkarya di rumah” dengan belajar banyak dari mereka terlebih dahulu.

Aku berkeinginan untuk bekerja dengan kontribusi ke sosial yang besar, ternyata tidak bisa di NGO, tapi di Bobo bisa membuatku berkarya untuk anak Indonesia, di Kasandra dan Pulih bisa membuatku dekat dengan “apa yang bisa psikolog lakukan untuk masyarakat sekitar”, dan memberikan sedikit langkah-langkahku serta karya untuk sekitar.

Aku senang!

Masih mau lagi?
Walaupun full time job di Kasandra, tapi Ibu psikolog cantik itu memberikanku ruang berkarya. “Saya suka dan mau kamu berkembang,” begitu katanya. Akhirnya, aku ikut seleksi Duta Cerita dari Habibie Center dan terpilih untuk mengikuti programnya minggu depan. Duta Cerita adalah program dari Habibie Center untuk menyebarkan isu-isu perdamaian di tengah perbedaan. Iya, aku rasa Indonesia butuh itu.

Aku juga pernah ingin untuk pergi kemana-mana membawa misi kenegaraan, tapi aku pikir mungkin bukan sekarang waktunya. Dengan Duta Cerita, aku ingin lebih memahami negeri ini, sebelum aku terbang seperti impianku, hehe

Yap…
Bekerja? Iya lebih baik menyebutnya “berkarya” maka disana ada rasa bahagia, minat, dan usaha. Hasilnya adalah karya…. dan hal-hal material adalah bonusnya.

Notes: aku masih jadi teman belajar Naura setiap Selasa Kamis malam. Ternyata bertemu anak-anak adalah satu hal yang jadi semangat untuk banyak belajar. Naura adalah salah satu sumber semangat itu. Thanks Nau!

Apa yang membuatmu semangat?

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.