Merunduk Tak Jatuh

Merunduk tak jatuh menjadi kata yang kupakai untuk menganalogikan rendah hati. Orang yang sedia menerima, sedia diterima. Orang yang sudah jarang kutemui, bahkan aku takutkan tak bisa kutemui dalam diriku juga.

Bagi sebagian orang, tetap belajar adalah upaya merunduk tak jatuh. Namun, sebagiannya lagi, belajar adalah perihal diri sendiri, tak boleh dihadiri siapapun yang berbaik hati. Baginya, ia tak perlu belajar dari orang lain di luar sana, apalagi dengan yang (ia rasa) berada di bawahnya.

Merunduk tak kenal siapa yang di bawah ataupun di atas, ia membedakan -maknanya-, bukan -letaknya-.

Aku berdoa dalam hati, lebih dalam daripada mendoakan kesehatan, agar Tuhan bantu aku untuk bisa merunduk tak jatuh. Aku sendiri kadang lelah dengan orang yang “tak bisa dengar” padahal punya telinga, tapi bisa “beri ruang” padahal punya sebidang luas kesempatan. Bagiku, itu mimpi buruk untuk seorang pembelajar.

Kita belajar bukan untuk menutup pintu dan memasang papan nama “serba tahu”.
Kita belajar untuk membuka pikiran dan risiko terbuka adalah “siapapun bisa masuk”.
Kita belajar untuk belajar menerima tetapi tidak meresap begitu saja.
Kita belajar untuk merunduk tanpa takut jatuh, menengadah tanpa takut silau.

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.