Dua Pohon Penyelamat

Benci itu ada bukan semata-mata karena sesuatu mengganggumu dan begitu mengusikmu, tetapi juga karena kamu mengizinkan benci itu muncul bahkan menguasaimu… Berhentilah, daripada lelah…

Tahun 1990 …

Setiap kali mendengar namaku disebut, melihat rupaku saat foto dicetak, atau terbayang tiba-tiba tentang pahitnya hidup ini, hati rasanya perih, ada rasa benci untuknya, dan ada rasa benci pada sebuah bayangan saat aku becermin. Aku bahkan menghindari cermin, tak ingin terlihat lagi.

Aku terlahir seperti ini saja sudah jadi hal yang memilukan dan bahkan membuatku memilih untuk tidak pernah lahir. Apalagi ketika melihat saudara kembarku yang bisa melompat kesana-kemari, bergaya dengan cantik, berpindah dengan mudah. Aku? Berdiri saja tak bisa, berjalanpun tak sempurna.

Aku benci ketika ada tamu datang. Aku benci ketika mereka melihat aku tak cantik seperti kembaranku. Aku semakin benci ketika mereka mengasihani aku. Sudahlah. Ketika tamu datang dan tak sengaja aku sedang menonton di ruang TV, percayalah bahwa aku memilih untuk tetap diam, tetap menonton. Aku menyembunyikan kakiku di dalam rok panjang atau kain. Sampai mereka akhirnya pulang, walaupun itu sampai larut malam. Aku hanya tak ingin mereka tahu. Lelah? Sangat lelah. Bayangkan kamu duduk berjam-jam, tidak berpindah, mengganti siaran televisi yang kamu tak suka satupun.

Saudara kembarku mengerti. Ia akan duduk di sampingku dan menemaniku. Namun, kami tak punya pembantu, jadi ia harus membantu Ibu di dapur. Akhirnya aku sendirian dan sepertinya aku akan begitu seumur hidup.

Aku tak pernah keluar rumah, sama sekali. Aku tak mau bertemu orang banyak di luar sama. Dari televisi, aku lihat betapa cantik dan tampannya orang-orang di luar sana. Aku tak lihat orang seperti aku. Apa tempatku bukan di bumi? Kadang aku bertanya seperti itu, berharap ada tempat dimana aku melihat ada orang yang seperti aku.

Tahun berganti begitu cepat, orang tua menua, aku dan kembaranku menjadi dewasa. Aku merasa hanya begini saja.

“Kenapa sih kamu harus bawa banyak orang ke rumah? Kamu mau membuatku malu? Hah!” Aku begitu marah pada saudara kembarku karena suatu hari Ia mengajak begitu banyak anak ke rumah.
“Bukan, bukan begitu. Mereka ingin belajar bersama denganku dan kami tak punya tempat,” jawabnya.
Aku begitu marah padanya. Di mataku, ia tak lagi mengerti rasanya jadi aku. Rasanya jadi orang yang begitu malu bertemu orang lain.

Ini minggu ketiga keramaian di rumah kami, lagi-lagi karena ulah saudara kembarku. Setiap minggu baru, semakin banyak anak-anak yang datang. Aku melihatnya kewalahan tapi aku tak sanggup membantu, tepatnya aku malu.

Hari itu, pagi-pagi sekali saudara kembarku menyiapkan pohon yang ia buat dari ranting-ranting kering yang disambung dengan kawat. Lalu, sebelumnya ia membeli pohon cemara kecil. Jadi, pohon itu ada dua. Aku juga tidak tahu kenapa dia tidak membeli dua pohon cemara saja.

“Nah, sekarang Ibu bagikan dua kertas untuk satu anak yaah. Satu kertas untuk tulis harapan, satunya lagi untuk tulis hambatan,” begitulah instruksi dari saudaraku. Anak-anak begitu asik menulis lalu menggantungkan kertas-kertas di pohon, satu untuk pohon harapan, dan satu untuk pohon hambatan.

Harapan…

Tanpa sadar aku ikut mengambil kertas dan seketika menulis hambatan, tentu saja nasibku dengan kaki tak sempurna dan sakit-sakitan yang tanpa henti. Selesai menulis hambatan, aku mengambil satu kertas lagi.

Aku terdiam lama sekali, hanya melihat kertasku kosong. Aku bingung tentang harapan. Sepertinya kami sudah berpisah begitu lama. Aku berteman dengan hambatan dan bahkan tak menyapa harapan. Apa itu harapan? Atau apakah aku masih punya harapan?

“Yes! Semuanya sudah menggantungkan kertas? Di kanan ibu adalah pohon harapan, di sebelah kiri Ibu, pohon hambatan,” kata saudara kembarku pada anak-anak.
“Pohon harapan ini harus kita jaga supaya tetap hidup. Kita siram, kita pupuk, kita rawat sampai besar, setuju?” tanyanya lagi.
“Setujuuuuu….!” jawab semua anak kompak dan ceria.
“Kalau pohon satunya Bu?” tanya seorang anak.
“Nah, lihat saja pohon ini. Pohon ini dari ranting-ranting kering yang sebenarnya sudah mati. Biarkan dia di pojokan saja, tak usah diapa-apakan karena ia tak bisa hidup. Kita pasti punya hambatan, tapi jangan sampai hambatan itu yang tumbuh besar. Tapi ….”
“Harapan yang tumbuh besar,” jawab seorang anak menyela saudara kembarku.
Semua anak gembira dan bertepuk tangan.
Aku? Aku duduk dalam tangisku.

Selama ini aku sedang merawat hambatan. Kata pertama yang aku tulis sebagai hambatan adalah kelumpuhanku. Aku merawatnya hingga aku berumur 20 tahun seperti sekarang. Kebencian itu aku rawat, aku pupuk, aku siram, hingga tumbuh subur dalam diriku. Benar, bukan salah orang tuaku, pasti bukan juga salah Tuhan, kalau aku seperti ini. Aku izinkan kebencian itu begitu menguasai diriku. Aku tidak merawat harapan, bahkan mungkin tidak menumbuhkannya.

Malam itu, ketika rumah sedang sepi. Aku menuju pohon cemara kecil, menggantungkan sebuah kertas kecil melengkapi kertas dari anak-anak. Tulisan di kertas itu adalah “Aku tidak akan membenci diriku”. Tiba-tiba sebuah pelukan hangat menghampiriku, saudara kembarku.

“Harapan kakak ini dulu ya Dik, satu dulu yah,” kataku sambil menangis.
“Terima kasih banyak ya kak, nanti kita gantung lagi yang lain ya,” jawab adikku yang juga ikut basah dengan air mata.

Kami berdua berpelukan malam itu di dekat pohon harapan. Hari berikutnya, aku pun ikut mengajar anak-anak dengannya. Akan aku pastikan anak-anak tak kehilangan harapan, apalagi dikuasai kebencian.

Selamat memasuki bulan suci Ramadhan, mari kita pupuk kedamaian, dimulai dari damai dalam diri. Lengkapi indahnya bulan ini dengan koleksi busana lebaran dari Zalora,tinggal klik —> koleksi baju lebaran 2017 terbaik di ZALORA

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.