Kenapa Harus Tertawa?

Aku menghentikan langkah karena sebentar lagi kereta akan lewat. Seperti biasa bapak-bapak berpakaian biru dongker bertopi putih menjaga semua penumpang agar jangan sampai tertabak kereta.
Terima kasih Pak, tapi …

Kereta sudah melewati area penyeberangan. Seseorang berlari terengah-engah. Awalnya ia bertanya,”Kereta bogor? kereta bogor? iya?”
Si bapak berbaju biru donger tertawa cekikikan, lalu yang lainnya ikut tertawa. Si penanya, berlari terengah-engah dengan satu tas ransel dan dua goody bag yang terisi penuh.

Bapak biru dongker tertawa sambil mengolok-ngoloknya berlari, menirukan gaya bicara si Penanya. Berlari di sebelahnya sambil tertawa. Bapak biru dongker yang lain di seberang juga tertawa-tawa. Hmmm… aku melewati kedua Bapak itu yang tetap sibuk tertawa dan berulang kali menirukan gaya bicara si penanya. Mataku tak lepas dari keduanya. Prihatin. Kenapa mereka tertawa?

Aku duduk di bangku sebelah bangku si penanya. Aku lihat ia masih terengah-engah karena ketinggalan kereta meskipun sudah berlari (kemungkinan 1) atau karena ternyata itu kereta sampai Depok bukan Bogor (kemungkinan 2). Apapun alasannya, memang tak bisa membuatku berhenti memandang si penanya dan memberi senyum, berharap ia lebih tenang. Lalu, beralih pandang kepada si Bapak biru dongker yang memprihatinkan.

Dari wajah dan cara bicaranya memang si penanya berbeda dari kebanyakan orang, mungkin bisa kubilang wajahnya tipikal Mongoloid. Lalu, berjalannya pun kadang masih tidak seimbang.

Namun, kenapa harus tertawa? Kenapa dilanjutkan dengan mengolok-ngoloknya? Si Bapak berbaju biru dongker ini mungkin kurang kerjaan, menjaga penumpang agar tidak tertabrak kereta sepertinya kurang membuatnya cukup kerjaan.

“Mau tanya, jam berapa sekarang?” kata si penanya.
Pertanyaan itu menyadarkanku akan “diam” mempertimbangkan aku akan datangi bapak biru dongker itu atau tidak.

“Jam setengah 1,” satu suara menjawab.
“Lama ya kereta ya,” katanya.

Tak lama kemudian kereta datang, dia berlari menuju tempat untuk gerbong – tidak khusus wanita -.

Jadi, siapa yang punya respek?

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.