Mei #2 dengan Sas

Selain Sas balik ke Bogor lagi setelah beberapa waktu di Bali, hal yang bikin aku tidak kalah bersyukur adalah perasaan bahwa kami semakin dewasa untuk melanjutkan kebersamaan ini.
Hahaha, ini bukan tentang menikah yaah, tapi tentang memutuskan untuk melanjutkan langkah sama-sama, ntah kemana.

10 Mei 2019, kami sampai ke usia ke-4 sejak memutuskan untuk berbagi cerita bersama. Naik turun, damai bergejolak (haha), tentu selalu ada, dan semestinya memang ada. Aku memahami bahwa “berapa lamapun” kebersamaan ini berusia, akan selalu ada “Ia yang baru” yang aku temui setiap detiknya. Aku percaya manusia itu dinamis. Jadi, aku masih punya banyak sekali rasa ingin tahu dan ingin kenal lebih dan lebih dari sekarang.

Selama 4 tahun, bisa dihitung jari, berapa hari yang kami lewati tanpa berbincang (berhubung kami tidak berada dalam satu kota, jadi berbincang di sini diartikan secara langsung ataupun lewat telepon yah). Ada rasa syukur ketika aku tengah berjalan dengan seseorang yang menilai bahwa komunikasi adalah faktor penting yang menjadi salah satu penyusun rasa saling percaya untuk bersama.

Hal lain yang aku syukuri dari kebersamaan ini adalah aku belajar tentang kesederhanaan dan apa adanya. Dia menjadi dia seperti apa yang memang ia miliki, ia rasakan, dan ia inginkan. Ada satu kalimat yang aku nggak pernah lupa darinya:
“Put, aku senang liat kamu senyum, ketawa, ngelawak nggak jelas, menye-menye. Aku mau kamu bahagia, ceria kayak gini. Nggak perlu jadi orang yang paling bagus, orang yang paling keren untuk bisa menikmati hari kan. Aku mau liat kamu ceria selalu.”

Yappp…
Dia tidak menuntut banyak, sekalinya menuntut memang hal itu karena akunya yang ngeyel (baca: selalu mau beli telor gulung atau cilok, padahal anaknya gampang sakit tenggorokan kalo jajan sembarangan).
Ia beri aku ruang untuk jeda sebentar dan bersyukur atas segalanya, tidak berkejar-kejaran. Dia penikmat langit, rumput, suasana. Aku dibawa berkenalan dengan hal-hal indah dan sederhana. Kalau kalian melihat aku sebagai orang yang cukup tenang, ia adalah bagian dari pengajaran di dalamnya 😊

Kalau diingat, aku sempat urungkan niat untuk bersama (bukan hanya ia, tapi siapapun), ketika sudah bersama – aku urungkan niat untuk bersama lebih lama, tetapi ternyata kami bersama lebih lama. ….. dan aku menemukan diri merasa bahwa aku ingin lebih lama dengannya.

Aku butuh empat tahun untuk yakin bahwa aku ingin lekat. Kalian bisa bayangkan yah, bagaimana rasanya jadi ia. Bersamaku yang beku-kaku-tidak percaya pada sebuah hubungan. Kenapa sampai begini? Aku pernah terbawa kecewa yang mendalam untuk sebuah hubungan bertahun-tahun yang diisi oleh berbagai pengalaman negatif yang membuatku hati-hati sekali saat membiarkan orang lain masuk dalam hati. Aku belajar banyak dari kegagalan yang tidak ingin aku ulangi itu. Maka, mungkin itu yang membuatku maju mundur untuk benar-benar mengizinkan.

Mengapa tahun-tahun lalu tetap bisa dilalui bersama? Mungkin…

Pertama, ia menerima ketakutanku sebagai bagian dari aku yang bisa diubah. Impresi pertama ini sangat-sangat menenangkan untuk aku yang saat itu begitu menyalahkan diri sendiri mengapa terjebak lama dalam hubungan yang bisa dibilang tidak sehat itu. Ia tidak menyalahkan aku, ia katakan aku memang harus hati-hati sejak itu terjadi, tidak apa aku marah, dan ia katakan bahwa saat ini aku aman dengannya. Aku selalu menangis di awal-awal karena aku merasa bersalah mengapa “tidak berani” sepenuh hati dengannya. Ia tidak marah, tidak menuntut, ia menerima sembari mengisi lagi keberanianku sedikit demi sedikit.

Kedua, ia tidak pernah memaksa aku untuk langsung percaya, untuk langsung terbuka bercerita, untuk banyak hal yang kupikir akan dituntut ketika komitmen untuk Bersama dibuat. Ia beri waktu dan ia beri ruang nafas untukku sejak aku katakan bahwa aku punya pengalaman buruk dengan hubungan. Ia tidak berjanji untuk banyak hal, ia berjanji lakukan hal terbaik, dan ia selalu coba lakukan itu.

Ketiga, ia hadir dan begitu hangat untuk aku yang sempat menutup diri dalam hal ini. Hangatnya perlahan membuatku yang beku kaku saat itu mencair dan melihat dunia lebih baik dari ini. Empat tahun ia berikan banyak hal untukku, beri kasih yang luar biasa untuk aku yang bahkan tidak percaya diri untuk berbagi kasih sampai rasanya aku punya sedikit yang bisa dibagi juga untuk yang lain, dan lahirlah Bounce Back Project :”)

My savior…
Aku selamat, aku ke luar dari masa-masa sulit, masa-masa “takut” percaya, aku melihat ke belakang dengan lebih berani, tidak menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain. Aku merasa penuh syukur dan dapat menatap “setiap kehadiran” akan membawa pembelajaran serta selalu ada maksud baik di dalamnya, termasuk hadirnya kesedihan. Kemarin itu aku sedang belajar, agar saat ini aku menjadi seseorang yang lebih baik bersama Sas. Tidak tahu ke depan akan seperti apa, tetapi aku sangat sangat bersyukur untuk pemulihan empat tahun ini :”)

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.