Menepi Sebentar

Aku biarkan diriku menepi sebentar, mendengar permintaan dari bagian-bagian tubuh lain yang terbiasa bekerja mengikuti arahan kepala.

Di satu sisi, kepala sempat tanyakan “Tidakkah ini malas? Bukankah ada ini dan itu yang harus diselesaikan?”.

Ntah dari mana asal suara itu, aku katakan pada kepala,”Sebentar saja, kita istirahat sama-sama. Kamu juga boleh rehat sekarang. Kita sepakat bahwa tidak ada yang sedang dikejar, semuanya sedang berjalan seperti adanya ia dimaksudkan berjalan, kan. Kita istirahat sebentar, yah. Kamu boleh sekali menyimpan rasa khawatir itu dimanapun yang kamu pikir aman.”

Kami menepi dalam senyuman, kadang ada kekhawatiran yang tercecer sedikit-sedikit, tapi perlahan selesai. Senyuman perlahan berubah jadi tangis haru, ketika satu per satu aku hampiri, mulai dari ujung jari kaki sampai ujung rambut. Satu per satu, semuanya bisa sampaikan apapun, tidak perlu buru-buru karena agenda hari ini teruntuk itu.

Ada hal-hal lucu yang membuat kami tertawa bersama, ada hal-hal haru yang membuat kamu bersyukur, ada tanya yang sampai akhir pun tak terjawab.

Beberapanya akan aku tulis di sini, beberapa lagi tidak karena kami sepakat bahwa hanya kami yang tahu.

#1

“Kecil…”

Kata itu jadi sedemikian berarti akhir-akhir ini. Tidak jarang, banyak yang memandang itu sebagai sebuah kekurangan dan menanyakan padaku apakah aku tidak khawatir dengan tubuh seperti ini, banyak yang mengingatkan aku bahwa aku kecil untuk sebuah harapan yang besar. Mereka mengkhawatirkan, sebagian meragukan bahwa aku bisa. Aku tersenyum menyambut kata demi kata itu, bahwa aku baik-baik saja tak perlu dibicarakan karena tak akan banyak mengubah cara pandang. Aku menjalankan bagianku yang dipercayakan padaku. Ntah berhasil atau tidaknya, ntah karena kecil atau sebab lainnya, aku serahkan pada yang punya akhir.

Aku bersyukur jadi aku. Walaupun kadang hati rasanya kelu ketika diragukan, baik yang diucapkan secara sengaja maupun bercanda. Saat itu terjadi, ku izinkan beberapa waktu untuk mengeluarkan keraguan yang masuk ke dalam diri agar tidak dipendam di hati, biar dia melayang-layang di udara lalu pergi.

Aku bersyukur jadi aku. Ketika kecil, jarak antar kami semakin rapat, di sana kami bisa saling menjaga. Kami berpegangan untuk menguatkan. Kupikir untuk kamu yang sedih ketika diragukan, baik secara fisik maupun hal lainnya, carilah cara agar ada ventilasi tempat keraguan itu keluar dari dalam dirimu. Apalagi ketika ragu itu diberi dari luar, biar dia keluar lagi dan tidak membuat kamu lama-lama sedih.
Aku tak suka banyak bicara dalam hal ini, aku tak suka melakukan sesuatu untuk sebuah pembuktian, jadi aku tak pilih membela diri dengan dua hal itu. Namun, ketika aku diam, bukan berarti aku biarkan keraguan merasuk dan mengendap, aku ucapkan terima kasih sudah datang dan segera tunjukkan pintu keluar. Aku yakin kalianpun bisa, dengan cara kalian.

#2

“Kadang aku lelah kamu ajak berjalan ke sini dan ke situ, apalagi ketika keramaian jadi tantangan di hari Sabtu. Hhhhh… tapi ketika mata kabarkan banyak hal yang terlihat dari perjalanan kita itu, seperti banyak memberi energi.”

Kami terbayang penuhnya kereta suatu hari, terdesak di stasiun suatu waktu. Mata cepat-cepat bilang kalau perjalanan selalu beri pelajaran, seperti Bapak tua yang mengejar seorang anak ke peron perempuan. Para perempuan memasang wajah sinis sebelum bertanya, seperti menghakimi luar biasa ketika laki-laki masuk gerbong perempuan. Sambil berjalan, bapak itu bilang “Maaf saya mau cari anak, nanti kembali ke gerbong cowok”. Beberapa penumpang memberi jalan, beberapa lagi sibuk dengan asumsinya sendiri: “Duh, anak kok pisah-pisah” ; “Biar aja anak nakal, biar hilang”. Aku tak bisa bicara dengan Bapak itu karena kereta cukup padat, tapi seorang Ibu menyuarakan pertanyaanku,”Kenapa terpisah anaknya?” Bapak itu menjawab,bukan anak saya sebenarnya. Anak itu tadi tanya saya stasiun Depok Baru, saya bilang 5 stasiun lagi, tapi dia malah naik gerbong depan. Saya takut anak itu salah turun, jadi saya samperin.” Bapak ini sungguh baik di mataku, pun di mata beberapa penumpang yang memberi jalan. Namun, nyatanya tetap ada penumpang perempuan yang mengucap ketika Bapak itu sudah kembali ke gerbong pria,”Sok peduli, bukan anak sendiri juga.” Perempuan itu tepat di sampingku. “Apa salahnya menolong orang lain, Bu?” keluarlah sebuah pertanyaanku yang sampai ia turunpun tak terjawab, hanya muram dan kerut yang ada pada wajahnya.

Kami menarik nafas panjang. Menerima bahwa baik dan buruk seakan jadi sisi yang sama, dibedakan persepsi masing-masing saja.

#3

“Tentang seorang teman dan kehilangan… mari bercerita sedikit tentang itu…”

Haahh, iya. Aku tersadar bahwa seorang teman tak lagi sama. Hmmm tapi ketika dirunut lagi, semua hal pada dasarnya berubah, bukan? Ketika sesuai harapan, kita saja yang tidak lagi pikirkan perubahan itu. Teman itu sudah temukan teman yang baru, yang sedia jadi apapun yang ia mau. Sejak awal “sedia jadi apapun” terlalu rumit untuk aku lakukan sebagai temannya, aku pemilih akan melakukan apa. Jadilah, tapi aku senang melihat mereka seperti saudara karena aku tahu kalau aku tidak bisa. Suatu waktu kami bersama, teman baru mencoba melakukan ini dan itu yang menyiratkan bahwa ia lebih dari aku. Di sana, aku memperjelas bahwa tidak ada yang perlu dibandingkan apalagi dimenangkan dari sebuah pertemanan. Ia tak perlu repot menunjukkan ini itu yang berlebihan. Bagiku, pertemanan itu tulus adanya. Jika ia merasa lebih, sila jalankan. Itulah sedikit cerita tentang seorang teman, sebenarnya bukan kehilangan secara nyata. Rupanya tetap ada, tapi tidak lagi serupa dalam makna.

#4
“Diam-diam, melihat ini dan itu, dan tetap tenang dalam diam. Mencerna sebelum bicara, memberi ruang sebelum meminta didengar. Sepertinya itu jadi bagian hidup favoritmu yah?”

Semua seakan mengangguk setuju… Sambil tertawa-tiwi mengingat pengalaman melihat hal-hal lucu, atau hal-hal yang tampak jelas di mata tapi tak demikian ketika ada kata yang terdengar. Mata dan telinga tersenyum haru sendiri, siasat kerja sama yang tanpa henti, sebuah keakuran yang berarti. Tidak terburu-buru terpancing, menyimpulkan, apalagi berbagai kesimpulan yang ternyata masih prematur. Ternyata nyaman begini, sedia memberi ruang sebelum diberi ruang. Kita jadi bertemu hal yang meluas dan mendalam. Bisa jadi sebelum kita bicara, kita sadar bahwa bukan ini waktu dan tempat yang tepat untuk bicara. Bisa jadi sebelum kita bicara, kita sadar bahwa ada hal lain yang lebih penting dibicarakan saat ini. Memberi ruang seakan jadi perilaku tanpa upaya yang memberi banyak strategi dalam memanfaatkan daya.

Tidak terasa menepi ini menghabiskan malam hingga sebentar lagi hampir pagi. Pembicaraan kami terhenti. Kami tertidur lelap, tanpa mimpi, hanya kami…

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.