Menjadi Anomali

“Menjadi Anomali”

Aku menemukan dua kata itu yang pas menjawab aku ingin jadi apa. Suka urusan-urusan dewasa ke arah forensik tapi begitu terdorong untuk belajar parenting dan jadi psikolog anak, keduanya bukan hal yang bisa disatukan dalam pilihan S2 profesi psikologi. Dua-duanya terpecah menjadi dua kubu yang harus dipilih. Yeu – aku masih saja suka iseng bertanya – “kenapa ini harus dipisah?”.

Menjadi Anomali membuatku merasa harus terus belajar (baguslah!), bahkan di luar kelas kuliah nantinya. Beberapa gambaran yaitu, additional course tentang adiksi, EMDR, grafologi yang ketiganya pun mungkin tidak bisa diperoleh secara lengkap di kelas kuliah profesi klinis anak (kalau aku diterima, huhuhu) nantinya (mungkin klinis dewasa juga?), tapi aku yakin ketiganya bisa jadi modal menjadi anomali.

Ditambah lagi dorongan dalam diri untuk tak berhenti terjun di dunia pendidikan dan mendorong setiap anak untuk “ayo sekolah, sekolah dimana saja yang penting kamu belajar hal baru sebanyak-banyaknya”. Makin anomali ketika ada pilihan profesi pendidikan, hahaha (nah lo Put!). Makin-makin bertambah satu lagi additional course yang mungkin harus aku ambil terkait psikologi pendidikan.

Apa lagi?
Komunitas sosial? Yap, sedang aku pelajari. Walaupun Mas Hasyim suka godain,”Udah, insos aja” tapi rasaya klinis makro juga oke tuh, kolaborasi sama teman-teman insos (intervensi sosial) ya kan?.

Dunia pasca kampus ini membuat mataku terbuka tentang batas-batas yang sebenarnya semu dan bisa saja kamu lalui selagi kamu “terisi” dan “berani”. Psikologi punya pembagiannya dan masing-masing bagiannya punya peran sendiri-sendiri, ada yang kamu pilih untuk dalami dan ada juga yang kamu pilih untuk jadi pendukung kontribusi nantinya. Belajar tak terbatas, begitu pula ketika ingin berkontribusi. Isilah diri agar bisa dibagi dan tak habis-habis.

Setiap orang punya sinar yang ia sedang datangi. Sinarnya berbeda-beda, jadi langkah yang diambil pun berbeda. Boleh menengok kiri kanan untuk beri semangat atau minta saran, tetapi tidak untuk menilai perbandingan langkah. Tempatmu berdiri dan tempatnya mungkin berbeda, lalu cahaya yang ingin kamu datangi, juga mungkin berbeda.

Mau jadi apa Put?
Jadi anomali!
Aku sudah dapat contohnya nih, hihihi

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.