Pikirasa

Menjebak Senja

Pagi …

Seperti biasa aku tangkap hawa-hawa dingin. Keinginan untuk menarik selimut lagi masih sulit dihempas. Walaupun alarm “masih banyak kalimat yang belum bertemu titik” sudah berkali-kali berdering. Badan rasanya masih ingin merebah. Apa ini namanya lelah? Kenapa setiap pagi? 


Bukan karena tak ingin memulai hari. Namun, tidur terkadang minta waktu lebih panjang dari biasanya. 


Setelah dering yang kesekian, semuanya sunyi lagi. Tak lama, terdengar riuh keran air yang diputar, sapu bergesekan dengan tanah, pintu yang buka tutup, burung-burung. Semuanya dilanjutkan dengan langkah mendekati kamar, memutar gagang pintu dan lampu dinyalakan. Nah, alarm ini efektif. Jadi, kalau nanti tinggal sendiri?



Siang…

Beberapa gerakan mencuri perhatian. Suara-suara yang butuh pendengar, aku dengarkan. Diam yang perlu suara, aku suarakan. Siang indah karena mataku masih bisa melihat. Siang berikan gerakan figura-figura yang disebut kenyataan. Keadaan sebenarnya yang katanya harus dihadapi, tidak bisa dielakkan. Keadaan yang katanya punya alasan dan punya hikmah. 


Siang juga kadang membuat terpaku. Kadang aku rasa ada yang seperti bayangan, ikut kesana kemari. Salah? Tentu tidak. Namun, bayanganku harusnya hanya satu, yaitu ketika cahaya bertemu dengan benda gelap. Lalu kamu? Aku lihat kamu punya banyak hal yang bahkan aku tak punya. Jadi, kamu tak perlu jadi bayangan.


Lalu, siang bisa memperkenalkan aku pada berbagai lukisan baru. Hal-hal dulunya tak tertangkap mata yang penuh keterbatasan ini. Tak jarang aku terpukau, diam, tak bergerak, tetapi logika tetap berputar. Masih banyak yang aku tak tahu dan perlu tahu. Masih banyak yang berselimut kabut dan aku harus tunggu angin menghembusnya hingga terlihat jelas. Tak apa. Aku masih punya waktu untuk itu. 



Senja…

Pergantian terang menuju malam. Dimana tundukan mungkin tanda sesal, mendongak kemudian sebagai tanda kebangkitan. Tak perlu takut dengan gelap. Hari pun silih berganti terang gelapnya. Jadi, jatuh ke lubang gelap bukan berarti gagal.


Kadang senja menemukan pagi dan siang terlalu kosong atau keduanya ternyata ditinggal tidur begitu saja. Hampa. Sayangnya, senja terlalu percaya bahwa tak ada yang tanpa makna. Semuanya berikan hawa-hawa sejuk ketika kamu sediakan ruang untuk tempatnya bernaung. 


Disinilah aku menjebaknya. Senja. Aku mau dia duduk bersamaku menuliskan banyak hal dari pagi, siang, hingga kemarin malam dan seterusnya. 


Sebatas senja kami bertemu. Tak bertatap muka, tetapi aku tahu dia menemaniku. Tanpa bentuk, tanpa bau, tanpa warna. Namun, ada bisikan lembut yang katakan tiap kata yang harus aku tuliskan sampai “semua kalimat bertemu titik”, sampai “semua cerita bertemu akhir”.


.

Sekarang aku tengah bersama malam

Menulis tentang keberhasilan menjebak senja.

Atau aku yang terjebak oleh senja?

Ntahlah, yang perlu aku tahu…

Senjaku telah datang.

Lalu,

Sebatas senja itu,

tempat aku akan bercerita dalam-dalam.

Author

putripuspitaningrum@gmail.com
penuh waktu untuk menjalani dan memaknai; jeda waktu untuk menulis dan berbagi; -sedang berproses menjadi psikolog-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *