Pikirasa

Peran dan Tempo

Ada yang lebih jelas terlihat ketika langkah dibuat melambat… suatu sore

Kita semua lahir dengan peran tertentu dan diberi tempo hidup tertentu. Tidak baik melambat dan tidak perlu mempercepat. Terlebih apabila kita menyedari peran yang telah dititipkan.

Menunggu.
Bagi sebagian orang, mungkin ini pekerjaan termudah. Duduk saja sambil baca koran, selesai. Hmm, tapi bisa jadi masalah besar untuk bagian lainnya yang terbiasa bergerak. Sebentar, kata siapa menunggu itu artinya diam?

Itulah yang aku temukan dalam jeda waktu yang ada. Masa ini, masa di mana ”menunggu” seakan jadi teman, tetapi bukan alasan untuk diam. Banyak hal yang bisa dilakukan sembari menunggu tanpa perlu menuntut suatu hal yang sebaiknya terjadi nanti – menjadi terpaksa hadir saat ini. Ku rasa akan lebih lega rasanya ketika kita menyadari bahwa terkadang tugas kita adalah menunggu tetapi tidak diam, tetap lakukan sesuatu.

Lalu apa peran kita?
Aku sedang suka membaca atau mendengar cerita tentang untuk apa kita terlahir. Ilmu mendasar yang buatku dalam sekali untuk memahami maknanya. Jawaban tentang peran itu ada dalam diri ketika kita benar-benar menyadari hal yang sudah ‘diberi’ selama ini. Ketika menyadari peran itu, coba laksanakan sebaik-baiknya. Di sana selalu ada jalan dan kekuatan yang dititipkan untuk kita. Akan tetapi, ketika itu bukan peran kita, tidak perlu habiskan waktu dan energi untuk coba ambil kendali.

Dalam menjalankan peran, bukan berarti tidak ada ujiannya meski itu betul peran kita. Mungkin ujian itu dibuat agar kita bisa lebih terarah dalam menjalaninya dan lebih mengenal peran itu sendiri serta hal yang bisa membantu kita menjalaninya. Tanpa ujian mungkin kita jadi lupa tentang waktu yang kita punya.

Memang berapa lama waktunya?
Bukan kita yang tahu, tapi bisa kita rasakan apabila kita dalam tenang. Terlalu lambat atau terlalu cepat, kemudian sesuaikan. Berjalan sesuai tempo pada dasarnya pilihan yang memudahkan. Sebelumnya, kita pun perlu paham bahwa antara kita dan orang lain punya tempo yang berbeda – tidak ada yang lebih baik apabila memang itu yang dirasa melegakan.

Tempo berkait dengan peran; peran berkait dengan tempo.
Menyelaraskan keduanya seperti membuat jembatan antara pikiran dan perasaan.
Selaras atau tidaknya bisa terlihat dari perilaku.

Author

putripuspitaningrum@gmail.com
penuh waktu untuk menjalani dan memaknai; jeda waktu untuk menulis dan berbagi; -sedang berproses menjadi psikolog-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *