Pikirasa

Ragu

Saat menepi karena pandemi ini, aku beberapa kali tengok ke belakang untuk refleksi.

Ternyata, ada beberapa pekerjaan rumah yang tertinggal untuk diselesaikan.
Aku jadi tahu bahwa langkah seakan jadi ragu (seakan ada yang kurang) karena ada yang sebaiknya selesai lebih dulu tapi telah tertunda sekian wkatu. Pelan-pelan aku coba kerjakan, dan lega sekali rasanya ketika satu per satu yang menyelesaikan hal-hal lalu yang belum tuntas.

Tidak bisa selesai semua dalam satu waktu, tetapi setidaknya aku jadi tahu, bagian mana saja yang perlu mendapat perhatian lebih dulu

Bernafas lebih pelan, bergerak pun lebih pelan membuatku lebih mudah merasa “cukup”

Bisa dibilang, aku masih sering sekali meragu pada kemampuanku. Maka, sebelum melakukan sesuatu, aku perlu banyak waktu untuk meyakinkan diriku. Kalau diingat-ingat, hal itu lebih banyak datang dari opini orang lain (bukan ayah dan ibu). Mungkin karena ayah dan ibu tidak melakukan itu, rasanya tidak terlalu kuat mempengaruhiku sehingga aku bisa tetap berjalan. Walaupun, aku sadar bahwa semakin lama rasanya ada tumpukan keraguan ketika beberapa opini itu berulang. Itu memang tidak membuatku berhenti total, tetapi aku merasa bahwa hal itu melambatkan langkahku. Dari menepi ini, aku coba untuk menerima semua opini tersebut sebagai sebuah perhatian. Bukahkah mendapat perhatian adalah kesempatan yang baik?

Saat menepi ini, aku pun ajak “ragu” berbincang sesekali. Katanya: “Kadang, kamu yang panggil aku datang. Padahal itu bukan waktuku untuk datang dan aku juga tidak sedang ingin bertamu ke rumahmu.”

Setelah aku ingat-ingat, ternyata benar. Aku sendiri yang memilih menghadirkan “ragu”, padahal ia sendiri tidak mau. Atas nama “ragu”, aku memutuskan tidak melakukan sesuatu. Padahal, ragu datang untuk tujuan yang jelas, “membuat kita lebih hati-hati”; bukan membuat kita total berhenti. Sekarang ini, bukan berarti aku tidak lagi peduli dengan opini orang lain, tetapi aku punya daya untuk memilih opini yang mana yang perlu aku pahami sampai ke hati. Punya daya untuk melihat lebih menyeluruh, benarkah opini itu? Apakah perlu aku meragu karena itu?

Aku menemukan waktu yang tepat untuk “ragu” datang padaku dan kita bekerja sama untuk menyelesaikan itu. Aku juga tahu waktu yang tepat untuk membiarkan “ragu” untuk tidur saja dulu tanpa aku ganggu.

Nanti aku lanjutkan bercerita lagi yah 🙂 Syukurnya, ada banyak hal yang aku temui ketika menepi. Salah satunya kesukaan bermain dengan cat air. Yay

Author

putripuspitaningrum@gmail.com
penuh waktu untuk menjalani dan memaknai; jeda waktu untuk menulis dan berbagi; -sedang berproses menjadi psikolog-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *