Setara, Tak Sama, Serupa

Sebelum kamu lanjut membaca, aku ingin bilang bahwa aku senang bisa menulis lagi di sini. Mungkin kalau kondisiku tidak dibuat seperti ini oleh-Nya, maka tulisan inipun tidak akan ada. Lalu kita tidak bertemu lewat kata, kurasa.

Apa kabarmu hari ini? Hari terakhir di tahun 2018? Apa kamu sedang sedih? Merasa gagal? Bingung menghadapi keadaan?
Akupun sempat begitu, untungnya sejak menuliskan ini sudah lebih tenang.
Selagi aku bisa, aku ingin bercerita padamu tentang 2018 yang akan berakhir 2 jam ke depan.

Setara, Tak Sama, Serupa

Aku tengah berada dalam sisi terendah tahun ini. Apakah aku sedih? Iya, siang tadi aku masih menangis, tetapi dengan penerimaan bahwa mungkin ini memang waktunya aku menangis.

Bisa dibilang jika tahun 2018 dibagi dua sama rata, maka awal hingga tengah adalah masa ketika aku penuh dengan senyuman, tawa ceria, semangat. Lalu, tengah ke belakang, adalah masa di mana aku merasa kebalikannya.

Aku suka menulis harapan. Aku ingat doaku waktu itu:
“Tuhan, aku mau belajar lagi. Aku akan daftar kuliah. Kalau memang beasiswa itu rezekiku, buatlah aku pantas. Jika tidak, buatlah aku teguh bekerja untuk biayai itu semua. Tuhan, Agustus nanti akan masa puncak dimana aku akan -mengantar Bapak- berjalan lebih dekat denganmu, buatlah segalanya lancar,
……dan sebagainya dan sebagainya, dan seterusnya, hingga aku sadar tak terkira banyak permintaan itu…

Ia memenuhi semua bahkan sebelum tahun menuju bagian tengahnya. Ditambah dengan berbagai kejutan senyuman, seperti langkah Bounce Back Project, liburan tanpa rencana, dan berbagai hal manis lainnya.

Ketika sampai di tengah tahun. Aku dibuatnya pada masa –mendekati nol-, bahwa aku akan memulai dari titik nol. Segala yang kuminta, sudah dipenuhi-Nya, sampai padaku tak kurang, bahkan lebih. Ku upayakan gunakan sebaik-baiknya. Namun, hari ini aku sadar, di tengah tahun ini, Ia siapkan aku untuk menjadi nol.

Sebut saja aku sedang berada di tengah tahun, titik nol. Dimana aku lebih suka diam melihat, mendengar, dan merasa, bahkan gerimispun bisa buatku bahagia. Titik dimana aku merasa nol, imbang, tak kurang, tak lebih, tak jatuh, tak juga rapuh.

Tahun berlabuh. Hidupku memasuki tahap turun setapak demi setapak, ia antarkan aku berkenalan dengan kejatuhan yang mungkin bisa dibilang tanpa henti.

Aku tidak dapatkan beasiswa apapun, tetapi saat itu aku diberi pekerjaan untuk teguhkan niat tetap teruskan langkahku untuk belajar. Ketika tahun bergeser sedikit dari titik tengah, secara tiba-tiba, aku kehilangan pekerjaan itu. Mungkin secara nyata itu hanya urusan administratif belaka, dimana ada aturan baru kalau tiap pekerja harus hadir 5 hari penuh seminggu, tapi itu artinya aku harus tinggalkan kuliah. Ku lepaskan, ku ikhlaskan walau rasanya sedih sekali karena aku mencintai pekerjaan itu. Sungguh.

Kurang dari sebulan, aku dapatkan pekerjaan lagi. Tak beda jauh dari sebelumnya, ku kerjakan tanpa mengganggu kuliahku. Pun hitungannya aku tetap bisa biayai hidup dan kuliahku. Satu bulan kemudian aku sadar bahwa satupun pekerjaanku tidak dihargai, semua perjanjian pembayaran lenyap begitu saja. Aku ditinggal pergi begitu saja. Orang itu ntah sedang dimana sekarang. Iya, lagi-lagi ku ikhlaskan, ku lepaskan, berusaha berdamai dengan amarah.

Aku kemudian tenggelam dalam rutinitas kuliah yang ternyata memintaku lebih banyak belajar. Adaptasiku yang tak juga sebegitu cepat membuatku perlu waktu memahami semua, termasuk perubahan-perubahan yang terjadi padaku. Aku bertahan dengan tabunganku yang tak banyak.

Sampailah aku di Desember. Ternyata aku bisa setidaknya sampai di hari terakhir ini.

Dalam doaku pada Tuhan suatu hari, aku bilang:
“Tuhan, aku tidak tahu kapan aku akan dapat pekerjaan lagi yang mengizinkanku untuk tetap bisa teruskan kuliah ini atau berapa lama aku akan bertahan seperti ini. Sekalipun begitu, aku ingin diberi kesempatan membantu sebanyak-banyaknya orang yang kiranya butuh aku, sekalipun kecil, mengambil barangnya yang jatuh?”

Kali ini, kali pertama aku merasa isu finansial menjadi begitu mencemaskan, dimana aku bahkan sempat meragu bahwa aku dapat bertahan. Mungkin aku tidak terbiasa dengan kondisi ini. Maka itu, ku anggap ini latihan. Tidak ada cara pikir lain yang kutemukan untuk meredakan cemas dan sedih yang memakan waktuku cukup banyak, terutama hari-hari libur ketika aku lebih banyak diam. Mungkin suatu hari ketika ini terjadi lagi, maka aku bisa hadapi lebih baik dari ini.

Doaku dikabulkan Tuhan.
Aku tidak tahu berapa kali Ia membuatku merasa bahwa aku sempat berbuat baik kepada orang. Aku diberi kesempatan mendengar cerita, yang akhirnya membuat aku paham bahwa setiap orang punya masanya, jatuh, mungkin sisinya yang berbeda. Ini sisi jatuhku, saat ini di penghujung 2018.

Mungkin aku tidak punya isu mencemaskan seputar pasangan, dan dia di sudut yang lain bercerita padaku tentang keraguan akan pasangannya. Mungkin aku tidak punya isu mencemaskan seputar persahabatan, dan dia di sudut yang lain bercerita padaku tentang kesendirian. Begitu pula, ketika aku punya masalah seputar finansial, mungkin kamu baik-baik saja dalam hal itu. Tak sama, setara.

Aku akhirnya memahami hidup lebih dalam, yang membuatku lebih berserah, tetapi tidak menyerah. Menyerah bukan pilihan teman-teman, bukan kuasa kita bahkan.
Ketika rasanya sakit sekali, ada dua cara menghentikannya. Pertama, berhenti hidup – dan ini sama sekali bukan hak kita sebagai manusia – biar Tuhan jalankan kuasa-Nya. Kedua, tetap melangkah, sekalipun awalnya terasa tanpa arah, Ia akan arahkan. Artinya, pilihan yang bisa aku lakukan sebagai manusia adalah pilihan kedua karena aku bukan Tuhan.

Aku pun sadar bahwa ketika akhir 2017 lalu, Tuhan arahkan aku memulai Bounce Back Project, sebenarnya ia sedang menyiapkanku seperangkat perlingungan, teman-teman, dan perhatian untuk tidak menyerah hadapi segala pembelajaran yang mampir kemari saat ini.

Aku mungkin merasa rumah tak lagi hangat, sehingga aku harus lalui semuanya dengan kaki dan tanganku yang seadanya ini, sudah aku ikhlaskan. Kemudian, ia berikan aku kekasih hati yang hangat dan sedia temani aku untuk tegar menghadapi. Ia berikan aku teman untuk dengarkan dan sedia bercerita. Kakak baik yang yang membantuku tanpa syarat. Dan banyak lagi bagian lain yang membuatku merasa –ada- dan –tidak sendirian- tak bisa kusebutkan semua di sini tetapi telah sempat kutitip doa untukmu pada-Nya.

Sekalipun kadang ada rasa sedih yang sengaja tak sengaja diberi seseorang padaku, tapi perlindungan-Nya sedia buatku sadar bahwa “aku hanya manusia biasa”.

Tentu, Ia atur kehilangan dan pemberian dengan begitu tepat.

Aku teruskan langkah sampai sekarang. Ntah kemana, aku masih tak paham ujungnya. Jika kamu bertemu aku suatu hari, jangan sungkan menyapa. Oh ya, jangan sungkan juga bercerita karena bagiku dibolehkan mendengarkan cerita dan mungkin memberi sedikit kebaikan, adalah terkabulnya doa di masa-masa jatuh ini. Sama sekali tidak memberatkanku. Hal itu membuatku merasa punya alasan tetap melangkah, bahkan ketika kamu berbagi duka :”)

Terima kasih sudah bersamaku sampai saat ini. Terima kasih sudah tidak menyerah — [untuk diriku dan juga kamu]

Tahun ini sebenarnya setara, setengah bahagia, setengah sedihnya. Begitu pula yang dialami manusia pada umumnya. Mungkin makna sedih lebih tepat adalah sebuah pembelajaran agar kita dapat menyusun bahagia di hari kemudian.

Semoga kamu baik-baik disana,
Salam

Putri Puspita

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.