#TanyaJuni: Tentang Ramah dan Tenang

Hello!
Pertama-tama, terima kasih banyak karena sudah bertanya seputar “bagaimana kalian melihatku”.
Secara tidak langsung, itu jadi dorongan untuk aku banyak berefleksi. Terima kasih terima kasih :))

Gimana caranya untuk bisa tenang dan friendly di setiap saat, Kak?
Aku akan mulai jawab dari “tenang”,baru kemudian “ramah” yah, hehe
Beberapa pertanyaan mampir, mirip-mirip dengan itu.

Sebelum menjawab itu, setelah baca pertanyaannya, aku sendiri nanya gitu “Hoo, aku gitu ya?”; makanya aku bilang kalau akupun berefleksi. Ini aku jawab berdasarkan hasil refleksiku yaah, hehe

Tentang Tenang
Jika aku banding-bandingkan, mungkin di tahun 2019 ini memang aku merasa lebih bisa “eling” dan “legowo” dibanding tahun-tahun sebelumnya dalam menghadapi sesuatu. Hmm… bukan karena tahun 2019 lebih mudah, tetapi ada pergeseran nilai dalam diriku. Semakin dewasa? secara usia tentu, bisa jadi itu juga berpengaruh.

Nilai apa, Put?
Tentang titik nol. Hmmm… kalau kalian pernah baca, Februari lalu aku pernah menulis perihal “Titik Nadir dan Transisi” yang aku rasakan di sini >> klik . Intinya aku merasa dalam masa-masa sulit (bisa dibilang begitu?), sampai pada titik dimana “berharap tentang esok tidak lagi ada pada daftar kesenangan pertama”, tetapi menikmati “saat ini” yaa “saat ini” karena bahkan sedetik lagi, semenit lagi, sejam, apalagi besok, aku belum tahu masih ada di sini atau tidak.

Titik nol itu yang membuat aku merasa bahwa, dulu-dulu pikiranku seakan ingin “membaca apa yang akan terjadi di waktu ke depan”, alih-alih mencegah hal buruk, malah kadang jadi kurang bersyukur akan “saat ini”, sibuk dengan yang nanti-nanti padahal belum tentu terjadi (siapa yang tahu?). Dari posisi titik nol yang aku bahkan nggak tau besok aku masih bisa lanjut langkah atau nggak, aku menjadi lebih “menikmati saat ini”, “saat dimana aku ada”, dan “diberikan waktu untuk ada”.

Aku mulai yakin bahwa seburuk-buruknya situasi, itu hanyalah situasi, yang temporer, bisa jadi baik lagi. Andaikan kita bisa ambil makna baik dari situasi buruk itu, maka tidak ada banyak alasan untuk khawatir.

Aku rasa itu poin pertama untuk menjawab tentang “kenapa tenang?”. Bukan berarti tidak antisipasi, bukan berarti tidak boleh cemas atau khawatir, semuanya tetap ada (karena perlu ada) tetapi dia otomatis menurun ketika aku mensyukuri hal yang terjadi “saat ini”. Rasa-rasa cemas, takut, atau lainnya yang biasanya buat tidak tenang tetap ada tetapi sesuai porsinya saja.

Selepas diskusi buku tentang Mindfulness bulan lalu, di situ aku baru sadar “Oh, jadi mungkin itu namanya mindfull….” dan itu bisa membantuku “eling” dan “legowo”.

Tentang Friendly
Hmmm… pertanyaan ini semakin membuatku berpikir sih karena aku jadi lupa seperti apa aku berperilaku, menyapa, atau bicara, rasanya mengalir begitu saja. Namun, aku coba jawab yaah…

Aku suka istilah “kesetaraan” – 50:50, memandang setiap orang itu sama, punya kelebihan – punya kekurangan, ada sisi baik dan sebaliknya. Maka mungkin ketika orang-orang tanya, apakah aku takut berurusan dengan hal-hal berbau kriminalitas sejak S1, rasanya tidak takut. Pandangan itu yang mungkin akhirnya menggiringku untuk berlaku kepada orang lain sebaik-sebaiknya yang aku bisa (lakukan sesuai hati akan lebih berarti :), salah satunya ramah. Aku merasa bahwa setiap orang punya cerita dan aku bisa belajar dari cerita itu. Berat-ringannya, dalam atau sebatas permukaan, pasti ada “alasan” di balik hal yang dia lakukan. Aku nggak tau akan bertemu lagi atau tidak suatu hari, jadi kumanfaatkan waktu aku bertemu sebaik-sebaiknya yang aku bisa.

Kenapa sih selalu ditambah kata “yang aku bisa?”
Yap, sebagai aquarius (lho kok bawa-bawa zodiak, canda yaaah), aku sendiri bukan orang yang pandai untuk menutupi perasaan. Kalau kalian lihat aku ramah, ya memang aku ingin ramah, tetapi di sisi lain ketika tidak ingin – aku tidak memaksa diriku untuk melakukan itu. Sebisa mungkin aku tidak ingin menyakiti orang lain, jadi yang aku pilih adalah menghindari hal-hal yang memang membuatku tidak nyaman. Istilahnya, memastikan lingkungan sekitar kondusif laah, ehehe

Tapi kah nggak bisa selalu begitu?
Yap betul, maka aku kembali pada tidak memaksa diri – memilih menghindar daripada menyakiti – dan biasanya memilih diam. Kalau belum bertemu aku yang seperti ini mungkin karena belum ada kesempatannya aja, hehe. Sampai sekarang sih, aku nyaman-nyaman aja, kalau nggak nyaman – maka aku memilih nggak ada di sana, ehehe

Teruntuk Keduanya – Tenang dan Ramah

Tenang dan ramah itu kupastikan muncul sesuai konteks. Namun, keduanya akan lebih mudah muncul ketika “kamu menjadi kamu”, diri kamu sendiri — bukan dia atau mereka. Suatu waktu ketika kamu ingin lebih baik, maka memang dari hati kamu sendiri — bukan karena dia atau mereka. Menjadi diri sendiri membuat langkah lebih ringan, setidaknya itu yang aku rasakan. Setidaknya untuk tenang dan ramah jadi tidak perlu lewat jalur “pura-pura dulu jadi orang yang tenang dan ramah”.

Perihal tenang dan ramah itu juga tergantung persepsi, versi tenang dan ramahku mungkin beda sama yang lain, nggak papa, selama itu yang benar-benar diri kamu 🙂

Aku tenang bukan karena mengharapkan orang lain ikutan tenang atau untuk dipuji, aku tenang karena aku nyaman begitu. Aku ramah bukan karena mengharapkan orang lain ikutan ramah, aku ramah karena aku senang sekali setelah berbagi sapa. Menggantungkan harapan pada orang lain itu sulit, siapa yang tahu kalau dia ikutan tenang? kalau dia nggak nyapa balik? Nah, kitanya jadi ngatur hidup orang, kan energinya jadi habis. Beda ketika itu kita buat untuk “nyaman” dan “senang”, selama itu perbuatan baik, maka hasilnya ya tergantung seberapa besar rasa syukur kita sendiri — kalau ngatur diri sendiri kan memang tugas kita yah, hehehe jadi energinya tercapai efektif – efisien.

Kenapa sih ngomongin energi?
Kadang kita lupa untuk tanya “apa kabar hari ini?” yang lebih dalam pada diri… tentang seberapa banyak energi yang kamu punya untuk tenang dan ramah, keduanya perlu energi. Kalau memang energi kamu belum cukup, jangan salahkan diri ketika belum bisa tenang atau ramah. Ibarat mobil yang bensinnya habis, bukan tidak bisa jalan kan? bisa, tapi perlu isi bensin dulu.

Caranya? Self care! Sayang-sayang sama diri kamu, isi-isi bensinnya. Kalau aku, biasanya berdoa, ngobrol, jalan-jalan, baca buku, dan nulis di sini, ehehe. Kalian pasti punya cara-cara favorit untuk mengisi energi.

Sekiaaaan :))
Selamat menikmati diri dan hari <3

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.