Unggahan Ini Itu di Instagram

Sudah lama rasanya ingin menulis lagi di sini, tapi tunda-tunda-tunda sampai menua (baca sambil nyanyik)…

Sempat berkontemplasi sedikit, tentang hal-hal yang mungkin dianggapnya remeh dan sepertinya tidak perlu dipikirkan hingga larut dalam berbagai pertimbangan. Hmm… tapi memang dasarnya Putri wkwkwk, dimulai dari hobi mengamati ini dan itu lalu mencari hal kebalikan dari ini dan itu itu, hahaha. Kira-kira jadilah sekelumit hal-hal ini


tentang Instagram

Sebagai penggguna instaram, akhir-akhir ini aku jadi bingung membedakan mana akun personal, akun berita, akun public figure, akun ahli bidang tertentu, akun politik, dan lain-lain. Aku pernah merasa di antara orang-orang yang suka sekali bicara. Sebenarnya, aku juga suka berpendapat, tetapi ketika riuh tanpa celah, aku akan pilih diam dan jadi pendengar, tentu juga pengamat.

Sebuah kondisi dalam satu aplikasi yang disebut overload information. Semuanya seakan menyatu jadi satu, banyak sekali yang bicara lewat unggahan, banyak sekali yang berpendapat. Mungkin ini yang dimaksud “kemerdekaan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat…..”

Walaupun ketika disaring, ada yang sesuai pada tempatnya, tapi tidak jarang melebihi yang mungkin sebenarnya ada, atau mengurangi yang sebenarnya lengkap. Jadi konsumen media sosial zaman sekarang memang mesti baik-baik memilah, baik-baik berpikir lebih dalam dan berefleksi. Hal yang tampil begitu, belum tentu begitu adanya. Bukan tidak percaya, tetapi strategi mengatur ekspektasi, terhadap hidup orang lain dan tentu hidup kita sendiri.

Terlebih cukup sering ada orang yang minta waktu duduk berdua dan berbagi cerita dengan topik menyayangkan hidupnya yang tidak seindah teman-teman. Ketika ditanya, tahu indah darimana? Jawabannya tentu unggahan demi unggahan itu. Padahal di dalam setiap unggahan itu, tentu ada ceritanya, hanya orang itu yang persis tahu.

“Mengukur diri dengan skala orang lain agaknya baru setengah dari penilaian diri, selesaikan setengahnya lagi – pakai penggaris atau timbangan atau alat lainnya yang kamu buat untuk dirimu sendiri.” —- Sepertinya bijak kalau kita “berdamai dengan diri sendiri” dahulu barulah bermain-main dengan media yang penuh informasi dan citra diri itu.

Setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya, klise tapi itulah kenyataannya. Temukan itu dan jadilah netral untuk dirimu sendiri dulu. Jika kamu seperti aku –> pengguna media sosial pengikut zaman, bukan pekerja menggunakan akun personal, dan bukan juga ahli yang cukup kompeten untuk di dengar pendapatnya akan semua isu, cobalah untuk jadi seperti adanya kamu. Ketika suatu waktu punya pendapat akan topik tertentu dan cukup tahu hal itu, cobalah berbagi, secukupnya. Tanpa perlu menjatuhkan orang lain, tanpa perlu bertindak jadi yang paling benar. Tempatkanlah “isi” pada “wadah” yang tepat, yah 🙂

Terasing? Mengasingkan Diri?
Memilih untuk tidak sering-sering banyak bicara pada sekian banyak orang, mungkin itulah hasil kontemplasi diri terhadap Instagram (Oh, apakah kalian semakin berpikir bahwa kontemplasi ini tiada guna sebenarnyaah, wkwk). Bukan karena Instagram tidak baik, tetapi bagiku (dengan kepribadianku, ecieh), bercerita langsung dengan teman dan mengetahui sudut pandangnya terhadap ceritaku memberi lebih banyak kebahagiaan. Tentu ini akan berbeda tergantung sudut pandang dan tipe orangnya masing-masing.

Oh, aku tidak berhenti menggunakan Instagram, tetapi aku mengontrol penggunaanku sesuai kebutuhan. Dari mana aku tahu kebutuhan? Ketika setiap harinya aku belajar lagi mengenali diri dan berdamai dengan diriku –> sebuah proses yang dilalui seumur hidup. Mungkin bagi kamu yang suka berkontemplasi juga tentang ini (ada nggak? Atau aku aja kali yaa, wkwk) bisa coba cara ini? LoL.

Biar bagaimanapun, dari Instagram, aku menyadari bahwa aku seperti ini dalam menanggapi hiruk pikuk dunia maya, wkwkw, terima kasih Instagram, wkwkw.

Aku butuh informasi dari berbagai akun yang berbagi pengetahuan di sana, beberapa akun personal juga memberikan sudut pandang unik dalam menanggapi suatu masalah, dan aku percaya mereka cukup paham sebelum bicara tentang hal itu. Beberapa akun juga bicara “karya” dan “makna”, ditambahan unggahan lucu-lucuan penghibur hidup. Nah, maka hal-hal itulah yang aku biarkan memenuhi tampilan di instagramku, selain tentang teman-teman yang juga berbagi cerita ini dan itu. Aku sendiri paham bahwa aku tidak butuh melihat banyak hal tentang impresi diri (aku lebih suka duduk, bicara, dan berkenalan langsung, aku merasa tidak dapat mengenal sebatas yang tampil dari media sosial).

Kita sendiri bisa mengontrol apa yang tampil untuk diri kita dan apa yang tampil dari kita untuk orang lain. Kontrol ada pada diri kita sendiri ?

Writing is my way to talk with my self and you too

Leave a reply:

Your email address will not be published.